Filsafat Pendidikan Islam (Astia Lili Erminda)

BAB I

PENDAHULUAN

 

            Pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan atau melimpahkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, dan keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah.

Pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan islam sangat perlu dan penting untuk dikaji dan dibahas karena kita dapat melihat metode-metode yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun untuk memperlengkap model pendidikan yang unggul dan terpadu sebagai upaya menjawab kebutuhan masyarakat saat ini. Semoga pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun dalam makalah ini dapat menjadi bahan perbandingan.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.           Biografi Ibnu Khaldun

lbnu Khaldun yang bernama Lengkap Abdurrahman Abu Zaid Waliuddin ibn Khalduni lahir di Tunisia pada awal Ramadhan 732 H atau bertepatan dengan 27 Mei 1332 M. Berdasarkan silsilahnya, Ibn Khaldun mempunyai hubungan darah dengan Wail bin Hajar, salah seorang sahabat nabi yang terkemuka. Keluarga Ibn Khaldun yang berasal dan Hadramaut, Yaman terkenal sebagai keluarga yang berpengetahuan luas dan berpangkat serta menduduki berbagai jabatan tinggi kenegaraan. [1]

Seperti halnya tradisi yang sedang berkembang di masa itu, lbn Khaldun mengawali pelajaran dari ayah kandungnya sendiri.[2] Sejak kecil ia telah mempelajari tajwid, menghafal al-Quran, dan fasih dalam qira’at a1-sabzh. Di samping dengan ayahnya, ia juga mempelajari tafsir, hadis, fiqh, gramatika bahasa Arab, ilmu mantiq dan filsafat dengan sejumlah ulama Andalusia dan Tunisia. Pendidikan formalnya dilaluinya hanya sampai pada usia 17 tahun. Ia belajar al-Quran berikut tafsirnya, Fiqh, tasawuf dan filsafat. Dalam usia yang masih relatif muda ia telah mampu menguasai beberapa disiplin ilmu klasik, termasuk Pemikiran Intelektual Muslim tentang Pendidikan Islam.[3]

Sebagai anggota dari keluarga aristokrat, Ibn Khaldun sudah ditakdirkan untuk menduduki jabatan tertinggi dalam administrasi negara dan mengambil bagian dalam hampir semua pertikaian politik di Afrika Utara.[4]

Pada tahun 1352 M, ketika masih berusia dua puluh tahun, ia sudah menjadi master of the seal dan memulai karier politiknya yang berlanjut hingga 1375 M. Perjalanan hidupnya beragam. Namun, baik di dalam penjara atau di istana, dalam keadaan kaya atau miskin, menjadi pelarian atau menteri, ia selalu mengambil bagian dalam peristiwa-peristiwa politik di zamannya, dan selalu tetap berhubungan dengan para ilmuwan baik itu Muslim, Kristen maupun Yahudi. Hal ini menandakan bahwa lbn Khaldun tidak pernah berhenti belajar.[5]

Selama 40 tahun, Khaldun hidup di Spanyol dan Afrika Utara. Di sini, ia senantiasa dihadapkan pada situasi pergolakan politik dan memegang beberapa jabatan penting di bawah para penguasa yang silih berganti. Sekembalinya ia ke Afrika Utara, Khaldun memutuskan untuk menunaikan ibadah haji. Pada tahun 1382 M, ia kemudian pergi ke Iskandariyah. Akan tetapi, dalam perjalanannya, ia terlebih dahulu singgah di Mesir karena popularitas dan kredebilitasnya sebagai seorang ilmuan, maka atas permintaan raja dan rakyat Mesir, ia ditawari mendudukj jabatan guru dan ketua Mahkamah Agung Dinasti Namluk. Tawaran ini akhirnya diterima, sehingga niatnya untuk melaksanakan haji terpaksa ditunda. Keinginannya ini baru dapat terealisasi pada tahun 1387 M. Dari tahun 1382 M hingga wafatnya, Ibn Khaldun memegang jabatan sebagai guru besar dan rektor di Madrasah Qamliyah serta ketua Hakim Agung (mufti) di Mesir selama 6 periode.[6]  Disinilah ia memanfaatkan sisa usianya untuk mengembangkan dan mengabdikan ilmu pengetahuan yang selama ini ditinggalkannya.[7] Sisa hidupnya dihabiskan di Kairo hingga ia wafat pada tanggal 25 Ramadhan 808 H atau 17 Maret 1406 M.[8]

  1. B.            Corak Pemikiran Ibnu Khaldun
  2. Pandangan tentang manusia didik

          Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia adalah makhluk berpikir yang mampu melahirkan ilmu (pendidikan) dan teknologi. [9]

          Manusia memiliki pemikiran yang dapat menolong dirinya untuk menghasilkan kebutuhan hidupnya dan memiliki sikap hidup bermasyarakat yang kemudian dapat membentuk suatu masyarakat yang saling menolong. Maka, timbulah ilmu pengetahuan dan masyarakat. Pemikiran tersebut pada suatu saat diperlukan dalam menghasilkan sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh panca indera. Ilmu yang demikian mesti diperoleh dari orang lain yang telah dahulu mngetahuinya. Mereka itulah yang kemudian disebut guru. Agar proses pencapaian ilmu yang demikian itu maka perlu diselenggarakan kegiatan pendidikan.[10]

Dalam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan manusia disamping bersungguh-sungguh juga harus memiliki bakat.[11] Berhasilnya suatu keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.[12]

  1. Pandangan tentang ilmu

Pertumbuhan pendidikan dan ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh peradaban. Ibnu khaldun mengatakan adanya perbedaan lapisan social timbul dari hasil kecerdasan yang diproses melalui pengajaran.[13]

Ibnu khladun membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga macam, yaitu[14]:

  1. Ilmu Lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatikal), sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis (sya’ir).
  2. Ilmu Naqli, yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci Al-qur’an dan tafsirnya, sanad, dan hadis pentashihannya serta tentang kaidah-kaidah fiqh. Manusia akan dapat mengetahui hukum-hukum Allah dan dari Al-qur’an didapati ilmu-ilmu tafsir, ushul fiqh yang dipakai untuk menganalisa hukum-hukum Allah.
  3. Ilmu ‘Aqli, yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya pikir atau kecenderungan kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan, termasuk ilmu mantiq (logika), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tingkah laku (behavior) manusia, termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Ibnu khaldun menganggap ilmu nujum sebagai ilmu yang fasid, karena dapat dipergunakan untuk meramalkan segala macam kejadian sebelum terjadi dan hal itu adalah sesuatu yang bathil, berlawanan dengan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tidak ada yang menciptakan kecuali Allah.

Di antara ilmu diatas ada yang harus diajarkan kepada anak didik, yaitu:[15]

a)             Ilmu syari’ah dengan segala jenisnya.

b)             Ilmu filsafah seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan.

c)             Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu bahasa, gramatika, dan sebagainya.

d)            Ilmu yang dapat membantu ilmu filasafah seperti ilmu mantiq.

Ibnu khaldun juga berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah ilmu yang pertama kali harus diajarkan kepada anak, karena mengajarkan al-Qur’an termasuk syari’at islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap Negara islam. Al-Qur’an ditanamkan pada anak didik akan menjadi pegangan hidupnya, karena pengajaran pada masa kanak-kanak masih mudah, karena otak sianak masih jernih.[16]

Dari keterangan diatas dapat kita analisiskan bahwa Ibn Khaldun adalah seseorang yang teliti dalam memikirkan sesuatu. Dapat kita lihat dari corak pemikirannya. Pertama sekali beliau menjelaskan tentang manusia yang merupakan pemeran utama dalam kehidupan yang membutuhkan pendidikan untuk menjalankan fungsi-fungsi social didalam masyarakat. Setelah itu beliau menjelaskan ilmu yang mana akan dipelajari oleh manusia untuk membentuk suatu peradaban dan disiplin ilmu.

  1. C.           Karya-karya Ibn Khaldun

Karya Ibn Khaldun Kitab Al-Ibar wa Diwan Al-Mubtada wa Al-Khabar.[17] Karya ini terdiri dari tiga buah buku yang terbagi ke dalam tujuh volume, yakni Muqaddimah (1 volume), Al-Ibar (4 volume) dan A1-Ta’rif bi Ibn Khaldun (2 volume).[18] Secara garis besar, karya ini merupakan sejarah umum tentang kehidupan bangsa Arab, Yahudi, Yunani, Romawi, Bizantium, Persia, Goth, dan semua bangsa yang dalam masa itu. Seperti kebanyakan penulis pada abad empat belas, Ibn Khaldun mencampur pertimbangan-pertimbangan filosolis, sosiologis, etis, dan ekonomis dalam tulisan-tulisannya.[19]

Dalam Muqaddimah yang merupakan volume pertama dari Al-Ibar. Ibn Khaldun berusaha untuk menunjukkan bahwa kesalahan sejarah terjadi ketika sang sejarawan mengabaikan lingkungan sekitar dan berusaha mencari pengaruh lingkungan fisik, nonfisik, sosial, institusional, dan ekonomis terhadap sejarah.[20]

Akibatnya, Muqaddimah utamanya adalah buku tentang sejarah. Namun demikian, Ibn Khaldun menguraikan dengan panjang lebar teori produksi, teori nilai, teori distribusi, dan teori yang kesemuanya bergabung menjadi teori ekonomi umum yang koheren yang menjadi kerangka sejarahnya.[21]

  1. D.           Pemikiran Filsafat Pendidikan Islam Ibn Khaldun
  2. Pengertian dan Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan merupakan alat untuk membantu seseorang agar tetap hidup bermasyarakat dengan baik.[22] Pandangan Ibn Khaldun tentang pendidikan Islam berpijak pada konsep dari pendekatan filosofis-empiris. Melalui pendekatan ini, memberikan arah terhadap visi tujuan pendidikan Islam secara ideal. [23]

Menurutnya, ada 3 (tiga) tingkatan tujuan yang dicapai dalam proses pendidikan yaitu:[24]

  1. Pengembangan kemahiran (al-malakah atau skill) dalam bidang tertentu. Orang awam bisa memiliki pemahaman yang sama tentang suatu persoalan dengan seorang ilmuan. Akan tetapi, potensi al-malakah tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-benar memahami dan mendalami satu disiplin tertentu. Dalam hal ini para pakar yang memiliki al-malakah secara sempurna. Untuk sampai pada tahap ini, diperlukan pendidikan yang sistematis dan mendalam.
  2. Penguasaan keterampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman (link and match). Pendidikan hendaknya ditujukan untuk memperoleh keterampilan yang tinggi pada profesi tertentu. Pendekatan ini akan menunjang kemajuan sebuah kebudayaan, serta peradaban umat manusia di muka bumi. Pendidikan yang meletakkan keterampilan sebagai salah satu tujuan yang hendak dicapai, dapat diartikan sebagai upaya mempertahankan dan memajukan peradaban secara keseluruhan.
  3. Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berpikir merupakan garis pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya diformat dan dilaksanakan dengan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan potensi psikologis peserta didik. Melalui pengembangan akal, akan dapat membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial dalam kehidupannya, guna mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
  1. Kurikulum

Ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat islam dapat dibagi kepada dua bagian yaitu, ilmu pengetahuan syar’iyyah dan ilmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahuan syar’iyyah berkenan dengan hukum dan ajaran agama Islam. Ilmu ini di antaranya adalah tentang al-Quran, hadis, prinsip-prinsip syari’ah, Fiqh, teologi, dan sufisme. Sementara ilmu pengetahuan filosofis meliputi: logika, ilmu pengetahuan alam (fisika), metafisika, dan matematika. Ilmu pengetahuan filosofis juga sering disebut sains alamiah karena dengan potensi akalnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk menguasainya dengan baik.[25]

Ilmu pengetahuan syar’iyyah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkannya. Konsepsi ini merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan Islam, yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban umat manusia.[26]

Dalam kurikulum Ibn Khaldun dapat kita lihat bahwa beliau begitu sempurna menyusun sebuah kurikulum. Ia membagi ilmu pengetahuan kedalam dua bagian, yaitu Ilmu pengetahuan Syar’iyyah yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits merupakan kurikulum primer atau kurikulum yang wajib harus diajarkan, dan ilmu pengetahuan filosofis yang merupakan kurikulum sekunder.

  1. Metode Pendidikan

Dalam melaksanakan tugas pendidik hendaknya memiliki metode yang efektif dan efisien. Dalam hal ini, Ibn Khaldun rnengemukakan 6 (enam) prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu:[27]

  1. Prinsip pembiasaan.
  2. Prinsip tadrij (berangsur-angsur).[28] Pendidik mengajarkan kepada muridnya problem yang prinsipil pada setiap cabang pembahasan. Selanjutnya mengangkat pelajaran ketingkat yang lebih tinggi.[29]
  3. Prinsip pengenalan umum (generalistik).[30] Keterangan-keterangan yang diberikan haruslah bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal dan kesiapan pelajar memahami apa yang diberikan.[31]
  4. Prinsip Kontinuitas.[32] Adanya kesinambungan dalam kurikulum atau keterkaitan antara materi pelajaran pada setiap jenjang pendidikan.
  5. Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik.
  6.      Menghindari kekerasan dalam mengajar.[33] Ibn Khaldun menganjurkan agar pendidik sopan dan halus kepada anak didik, karena anak yang di ajar secara kasar akan mengakibatkan gangguan pada di jiwa anak. Anak didik menjadi pemalas, pendusta, tidak percaya diri, mengemukakan sesuatu tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya karena ia merasa takut dipukul. [34]

Dari uraian diatas, terlihat bahwa Ibn Khaldun sangat komplit dalam menciptakan metode pendidikan. Terutama sekali beliau sangat memperhatikan peserta didik yang memperoleh pendidikan, dimana ia membuat prinsip pembiasaan, tadrij, pengenalan umum, sampai pada perhatian kepada bakat peserta didik, dan juga prinsip menghindari kekerasan dalam mengajar. Kesemua itu dibuat berdasarkan penelitian yang nyata dari pengalaman yang ia miliki selama ia hidup.

 

 

 

BAB III
PENUTUP

  1. A.           Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Ibnu Khaldun adalah seorang tokoh yang telah memberikan perhatian dan pemikirannya terhadap pendidikan islam. Hal ini dapat dilihat dari corak pemikirannya tentang manusia didik dan ilmu yang mana menurut beliau adanya suatu peradaban disebabkan oleh interaksi manusia hidup bermasyarakat yang memiliki pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dalam hal pandangan pendidikan islam beliau berpijak dari bukti nyata yang telah ditelitinya, oleh karena itu beliau menciptakan beberapa tujuan pendidikan yang sangat apik dan ideal. Dalam hal kurikulum beliau berpendapat bahwa Al-Qur’an dan Sunnah adalah ilmu yang wajib diajarkan pertama kali, agar dapat menjadi pegangan hidup baik dunia dan akhirat. Begitu juga dalam hal metode pendidikan beliau menyusunnya dengan sempurna yang dapat kita lihat dari karya besar nya yaitu Muqaddimah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Karim , Adiwarman Azwar, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Al-Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, Jakarta: PT Ciputat Press, 2005.

Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.

Abdullah,  Yusri Abdul Ghani, Historiografi Islam: dari klasik hingga modern, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Ahmadie, Muqaddimah Ibn Khaldun,  Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

 

 


[1] H. Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004) Hlm 392.

[2] Ibid

[3] Al-Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: PT Ciputat Press, 2005) Hlm 93.

[4] Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Hlm 392.

[5] Ibid

[6] Rasyidin, Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, hlm. 93.

[7] Ibid

[8] Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Hlm 392.

[9]Abudin nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005) Hlm 223.

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Ibid, hlm 225

[13] Ibid

[14] Ibid

[15] Ibid, hlm 226

[16] Ibid

[17] Yusri Ghani Abdullah, Historiografi Islam: dari klasik hingga modern, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004) hlm. 65.

[18] Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, hlm. 394.

[19] Ibid

[20] Ibid

[21] Ibid

[22] Nata, Filsafat Pendidikan Islam, hlm. 228.

[23] Rasyidin, Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, hlm.94

[24] Ibid

[25] Ibid

[26] Ibid

[27] Ibid, hlm. 95

[28] Ibid

[29] Ahmadie, Muqaddimah Ibn Khaldun,(Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000) hlm. 751.

[30] Rasyidin, Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, hlm.96

[31] Ahmadie, Muqaddimah Ibn Khaldun, hlm. 752

[32]Rasyidin, Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, hlm.96

[33] Ibid

[34] nata, Filsafat Pendidikan Islam, hlm. 227.



Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: