Filsafat Pendidikan Islam (Astia Lili Erminda)

BAB I

PENDAHULUAN

 

        Berbicara masalah pendidikan tidak akan pernah terlepas dari yang namanya pengaruh luar. Pendidikan bebas dinilai, akan tetapi pendidikan selamanya tidak akan pernah bebas nilai. Pendidikan dipengaruhi oleh siapa yang berbicara mengenai pendidikan tersebut. Dan kepada siapa pendidikan tersebut diperuntukan.

         Islam sebagai salah satu agama yang besar perlu menempatkan diri dalam peta perjalanan manusia. Perkembangna islam pun tidak serta merta tumbuh tanpa adanya usaha untuk mencapai hal tersebut. Sebab, semua yang terjadi tidak akan pernah terlepas dari yang namanya ’pendidikan’. Oleh karena itulah dalam rangka mengkonstruksi akan ajaran yang ada pada jati diri islam perlu adanya usaha melacak sejarah akan rekonstruksi yang telah dilakukan oleh pendahulu kita.

         Dalam makalah ini kami mengangkat usaha yang dilakukan oleh Fazlur Rahman selaku tokoh pembaharu dalam pendidikan dan pemikiran islam. Dengan melihat dan mempelajari usaha yang telah dilakukan oleh Fazlur Rahman, kita sebagai generasi penerus dari usaha pengembangan islam melalui pendidikan berharap dapat mengambil pelajaran. sehingga nantinya dalam pengembangan tersebut kita tidak berjalan dari ruang hampa, dan dapat lebih terarah langkahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Biografi Fazlur Rahman

            Fazlur Rahman Malik (Urdu: فضل الرحمان ملک), lahir pada tanggal 21 September 1919 di daerah Hazara, (anak benua India) yang sekarang terletak di sebelah barat Laut Pakistan.[1] Pertama-tama ia dididik dalam keluarga muslim yang taat beragama. Ayahnya bernama, Maulana Sahab al-Din, ia seorang alim terkenal lulusan Deoband. Pada usia sepuluh tahun, Fazlur Rahman telah hafal al-Qur’an secara keseluruhan. Dari ayahnya ia banyak mendapatkan pelajaran agama. Sedangkan dari ibunya kejujuran, kasih sayang, serta kecintaan sepenuh hati darinya. Pendidikan dalam keluarganya benar-benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat menghadapi kehidupan nyata.[2]

             Hal lain yang telah mempengaruhi pemikiran keagamaan Fazlur Rahman adalah bahwa ia dididik dalam keluarga dengan tradisi mazhab Hanafi;[3] sebuah mazhab sunni yang banyak menggunakan rasio (ra’yu) dibanding dengan mazhab sunni lainnya. Selain itu, di india ketika itu telah berkembang pemikiran yang agak liberal seperti yang dikembangkan syah Waliullah, Sayid Ahmad Khan, sir Sayid, Amir Ali, dan Muhammad Iqbal. [4]

            Kemudian, pada tahun 1933, Fazlur Rahman melanjutkan sekolah pendidikan tradisional di samping pendidikan modern di Lahore. Pada tahun 1940, Setelah lulus dari pendidikan menengahnya, Rahman melanjutkan pendidikan dengan konsentrasi bahasa Arab di Lahore dan memperoleh gelar Bachelor of Art, ia menyelesaikan B.A.-nya dalam bidang studi Bahasa Arab pada Universitas Punjab. Kemudian, dua tahun berikutnya (1942) ia berhasil menyelesaikan Masternya dalam bidang yang sama pada Universitas yang sama pula. Pada tahun 1946 Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk belajar di Universitas Oxford yang kemudian mendapatkan bimbingan dari Prof. S. Van Den Berg dan HAR. Gibb. Pendidikan doctor ini diselesaikan Fazlur Rahman pada tahun 1949 dengan disertasi tentang Ibnu Sina berjudul Avicenna’s Psychology yang kemudian diterbitkan oleh universitas tertua di Eropa itu. Selama belajar di Oxford, Fazlur Rahman mengajar di Universitas Durham, Inggris, yang semakin memperlihatkan kepadanya distingsi pendidikan modern di Barat dan Islam tradisional di negerinya, Pakistan. selama bebereapa tahun ia mengajar di Durham University, Inggris, dan selanjutnya di Intitute of Islamic Studies, McGill University, Canada. Ketika di Durham University, ia berhasil menyelesaikan karya orisinalnya yang berjudul Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy. [5] Pada awal 1960-an Rahman kembali ke negerinya setelah 3 tahun mengajar di Universitas McGill, Kanada. Kembalinya Rahman ini karena permintaan Ayyub Khan yang kemudian pada 1962 menyerahinya tanggungjawab sebagai pemimpin Islamic Research Institute dan The Advisory Council of Islamic Ideology. Kedudukan Rahman ini mendapatkan banyak kritik dari para ulama tradisional Pakistan terlebih latar belakang pendidikannya dari Barat. Lebih-lebih pada periode ini Rahman menulis di sebuah jurnal bernama Fikr al-Nadzar yang menggugat eksistensi wahyu dalam pandangan tradisional. Tulisan di jurnal ini kemudian menjadi dua bab pertama dalam buku Islam. Pakistan, di masa Fazlur Rahman hidup masih didominasi oleh kalangan tradisional yang kokoh dalam penafsiran tekstualis atas al-Qur’an. Bahkan sentimen atas Barat cukup kuat, bukan hanya karena kebudayaan dan pemikirannya, tetapi juga aspek politiknya.

          Gelombang protes terhadap Rahman mencapai puncak ketika terjadi pemogokan massal pada September 1968 di beberapa daerah yang membuatnya berpikir ulang tentang masa depan pemikirannya di Pakistan. Tetapi banyak pengamat menilai sesungguhnya kritik dan demonstrasi itu bukan ditujukan kepada Rahman, tetapi untuk menentang Ayyub Khan. Pada 5 September 1968 akhirnya Rahman mengundurkan diri dari Islamic Research Institute dan setahun berikutnya, pada akhir tahun 1969 Rahman berangkat ke Amerika menuju Universitas California, Los Angeles, dan diangkat sebagai guru besar pemikiran Islam di universitas tersebut.

               Fazlur Rahman kemudian pindah ke Chicago dan menghabiskan banyak waktu di sana untuk menuliskan karya-karyanya. Pada periode ini beberapa karya yang lahir antara lain The Philoshophy of Mulla Sadra, Major Themes of The Qur’an, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, dan Health and Medicine in Islamic Tradition. Sebagai guru besar di UCLA dan Chicago, Rahman mendapat pengakuan secara internasional dengan salah satunya menerima penghargaan prestisius Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E. Von Grunebaum Center for Near Eastern Studies dari UCLA yang hingga saat ini dirinyalah sebagai satu-satunya muslim yang menerima award itu.[6] Pada pertengahan dekade 1980-an Rahman mulai menunjukkan penurunan kesehatan meskipun masih bersemangat dalam berkarya. Sebuah buku yang terbit setelah ia wafat adalah Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. Setelah beberapa saat memperoleh perawatan medis di Chicago, Rahmn menutup usianya pada 16 Juli 1988 saat berusia 69 tahun.[7]

B. Corak Pemikiran Fazlur Rahman Dalam Pendidikan

Pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasai fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan, melainkan sebagai intelektualisme Islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tinggi Islam. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran Islam yang asli dan memadai, dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan Islam.

Menurut pemikiran Fazlur Rahman pendidikan Islam dapat mencakup dua pengertian, yaitu:

  1. Pendidikan Islam dalam pendidikan praktis

              Pendidikan Islam dalam pendidikan praktis yaitu pendidikan yang dilaksanakan di dunia Islam seperti yang di selenggarakan diPakistan,Sudan, Saudi,Iran, Maroko dan sebagainya, mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. UntukIndonesia, meliputi pendidikan di pesantren, di madrasah, dan di perguruan tinggi islam, bahkan bisa juga pendidikan agama islam di sekolah dan pendidikan agama islam di perguruan tinggi umum.

  1. Pendidikan islam yang di sebut dengan intelektual islam

            Yaitu pendidikan islam menurut Fazlur Rahman dapat juga di pahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia integrative, yang padanya terkumpul sifat-sifat seperti kritis, kreatif, dinamis, inovatif, progresif, adil, jujur dan sebagainya.

 

                                                                                                                                             

            Tanggung jawab pendidik yang pertama adalah menanamkan pada pikiran-pikiran peserta didik dengan nilai moral. Pendidikan islam didasarkan pada ideology islam karena itu pada hakikatnya pendidikan islam tidak dapat meninggalkan keterlibatannya pada persepsi benar dan salah. Al-qur’an sering kali berbicara tentang dunia dan akhirat. Dunia bernilai lebih rendah, materialis serta hasil yang tidak memuaskan. Akhirat bernilai lebih tinggi, lebih baik dan menjadi tujuan dari kehidupan.

             Al-qur’an menyuruh manusia mempelajari bumi seisinya dengan cermat dan mendalam serta mengambil pelajaran darinya agar dapat menggunakan pengetahuanya dengan tepat dan tidak berbuat kerusakan. Karena itu, tujuan utama dari pendidikan adalah untuk menyelamatkan manusia dari diri sendiri, oleh diri sendiri dan untuk diri sendiri.

             Fazlur Rahman memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan pengan pendidikan umat Islam. Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat member alternative, solusi atas problem-problem pendidikan umat Islam kontemporer. Semula ia mengembangkan metode kritik sejarah, kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode penafsiran sistematis (the systematic interpretation method), dan akhirnya disempurnakan menjadi metode gerakan ganda (a double movement). Yaitu ada dua tempat yang harus di perhatikan yakni sumber yang dalam kategori rahman adalah al-quran dan as-sunnah sementara tempat yang kedua yakni realitas social atau social cultural masyarakat setempat.langkah yang harus ditempuh dalam pendidikan yakni selaku pihak yang ingin mendirikan lembaga pendidikan islam haruslah dapat melihat realitas,kebutuhan masyarakat,tantangan kedepan.Kemudian pelaku lembaga pendidikan harus menarik problem tersebut kedalam daerah sumber .Dalam wilayah ini pelaku pendidikan melakukan proses perenungan yang mendalam agar lembaga pendidikan dapat memadukan hal tersebut .dan hasilnya dari proses tersebut baru dibuat dasar dalam pendirian dan pengembangan pendidikan islam.Walaupun gagasan rahman disini hanya bersifat teoritis dan belum selesai tapi para ilmuwan berikutnya berhasil mengembangkan konsep Rahman tersebut dengan adanya berbagai pendekatan keilmuan pendidikan islam mulai dari islamisasi ilmu sampai intergarasi dan interkoneksi.Ini dalam bidang keilmuan .dalam bidang menajemen pendidikan islam juga harus bersifat terbuka terhadap menajemen yang baru dan bersifat efektif .

C. Karya Ilmiah

     Sebagai seorang intelek yang sangat produktif dan progrssif, Rahman telah mengahsilkan banyak karya tulis dalam berbagai bidang keilmuan yang luas. Karya-karya Rahman dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu: karya-karya dalam bentuk buku, artikel, dan review buku.
Karya-karya Rahman yang berbentuk buku setidaknya berjumlah sekitar Sembilan buah, diantaranya: 1. Avicenna Psychology (Oxford: Oxford University Press,1952); 2. Propesy in Islam, Philosophy and Ortodoxcy ( G. Allen & Unwin, London, 1958 ); 3. Avicenna De Anima, Being the Psysicological Part of Kitab al Syifa'( New York: Oxford University Press, 1959); 4. Islamic Metodology in History( Karachi: Central Institute of Islamic Research, 1965), yang berisi tentang kajian Rahman tentang evolusi history dari aplikasi keempat prinsip pokok pemikiran islam, yaitu al Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, serta peran aktual dari prinsip-prinsip tersebut bagi perkembangan islam; 5. Islam (Hold Rineland & Winston: New York, 1966) merupakan usaha Rahman dalam member definisi “Islam” bagi Pakistan: 6. Phylosophy of Mulla Sadra Syirazi (Al Bany: State University of New York Press, 1976), merupakan kajian historis Rahman terhadap pemikiran Religio filosofis Sadr al Din Al Syirazi (Mulla Sadra); buku; pertama, Philosophy of Mulla Sadra Shirazi, ini didalamanya mengungkapkan tentang sanggahan bahwa tradisi filsafat islam telah mati setelah diserang bertubi-tubi oleh al-Ghazali, untuk membantah pandangan sarjana barat modern yang keliru tentang hal tersebut. Disamping itu, didalamya punmembahas tentang hasil penelusuran terhadap pemikiran Shadra. Fazlur Rahman sampaipada kesimpulan bahwa sistem filsafat Shadra sangat kompleks dan orisinal. 7. Major Themes of the Qur’an(Minneapolis Bibliotheca Islamica, 1980) Buku kedua ini berisi delapan tema pokok al-Qur’an, yaitu; Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia sebagai anggota Masyarakat, alam semesta, kenabian dan wahyu, eskatologi, setan dan kejahatan, serta lahirnya masyarakat muslim. Melalui karya ini Fazlur Rahman berhasil membangun suatu landasan filosofis yang tegar untuk perenungan kembali makna dan pesan al-Qur’an bagi kaum muslimin komtemporer. 8. Islam dan Modernity; Transformation of an Intellectual Tradition( Chicago: University of Chicago, 1982), Buku ketiga ini Fazlur Rahman berbicara tentang pendidikan islam dalam perspektif sejarah dengan al-Qur’an sebagai kriterium penilai. Menurut perspektif Fazlur Rahman bahwa yang dimaksud pendidikan bukanlah suatu perlengkapan, peralatan-peralatan fisik ataupun struktur eksternal pendidikan, melainkan intelektualisme Islam, sebab itu merupakan esensi daripendidikan tinggi islam. Ia adalah suatu pertumbuhan pemikiran islam yang asli dan memadai, yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan suatu sistem pendidikanm islam, ini merupakan hasil riset dari Unversitas of Chicago tentang “Islam dan Change” , yang menjelaskan tentang sejarah intelektual dan kehidupan Islam sejak periode klasik sampai periode saat ini; 9. Healt and Medicine in Islamic Tradition ( Cross Roads Book: New York,1987). Buku terakhir yang dihasilkan oleh Fazlur Rahman adalah Buku ini berusaha memotret kaitan antar organis antara islam sebagai sistem kepercayaan dan islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Dengan menjelajahi teks-teks al-Qur’an dan Hadits Nabi serta sejarah kaum muslim, Fazlur Rahman memperlihatkan bahwa perkembangan ilmu pengobatan dalam tradisi islam digerakkan oleh motivasi etika agama dan keyakinan bahwa mengobati orang sakit adalah bentuk pengabdian kepada Allah. Disamping itu, Fazlur Rahman juga menunjukan bahwa tegesernya ilmu pengobatan islam oleh ilmu pengobatan barat telah memunculkan problem etis, yaitu hilangnya dimensi religius-spiritual dalam pengobatan manusia.
             Sementara karya-karyanya yang berbentuk artikel yang tersebar dari beberapa jurnal, terjemahan karya berjumlah 75 artikel, disamping 7 artikelnya yang dimuat dalam beberapa insiklopedi dan yang berupa review buku berjumlah 16 tulisan. Selain itu masih terdapat beberapa karya orisinal Rahman yang sampai saat ini belum dipublikasikan.[8]

D. Filsafat Pendidikan Fazlur Rahman

1. Pengertian dan Tujuan Pendidikan

              Pendidikan tinggi Islam menurut Fazlur Rahman sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam,yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia.bahkan,menurut fazlur rahman pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan.[9]

              Evaluasi pendidikan digunakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan telah tercapai. Tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi pribadi yang kritis dan kreatif yang memungkinkannya pemanfaatan sumber-sumber alam untuk kebaikan, untuk manusia dan untuk menciptakan keadilan dan kemajuan dunia. Untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan itu telah tercapai, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap performence peserta didik terutama dalam memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan manusia dan dari segi keberhaasilan menciptakan keadilan, kemajuan serta keteraturan dunia. [10] Tujuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman untuk memenuhi kewajiban terhadap Allah dan Rasul-Nya serta tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

 

3.Materi dan kurikulum

            Materi pendidikan menurut Fazlur Rahman meliputi mebaca dan menulis, berhitung, Al-Qur’an, al-hadits, komentar dan superkomentar, fiqih, Illahiyah, adab, thobi’iyah, dan astronomi.[11] Rahman, melihat dengan penyempitan lapangan ilmu pengetahuan umum melalui tiadanya pemikiran umum dan sain-sain kealaman, maka kurikulum dengan sendirinya menjadi terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan murni dengan gramatika dan kesusasteraan sebagai alat-alatnya yang memang diperlukan. Mata pelajaran keagamaan murni yang disebut Rahman adalah Hadits atau Tradisi, Fiqh atau Hukum (termasuk ‘Ushul al-Fiqh atau Prinsip-prinsip Hukum), Kalam atau theologi, dan Tafsir atau eksegesis al-Qur’an. Dibanyak madrasah sayap kanan Ahl al-Hadits, bahkan theologi dicurigai, maka dengan sendirinya hanya tiga matapelajaran.[12]

4. Metode Pendidikan

        Metode pembelajaran abad pertengahan: membaca dan mengulang-ulang sampai hafal. Metode demikian ini menurut Fazlur Rahman dikenal dengan metode belajar secara mekanis, pada saat itu sekolah tidak melaksanakan ujian akhir tahun tetapi peserta didik bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan rekomendasi guru-gurunya.[13] Dalam berbagai bentuk menurut Fazlur Rahman pendidikan Islam ketika zaman pertengahan menerapkan metode membaca dan menulis, tetapi yang paling lazim adalah menghafal Al-Qur;an dan Al-hadits, namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemampuan intelektual.[14]

              Secara mendasar pembaharuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat dilakukan dengan menerima pendidikan, kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep Islam. Menurut Fazlur Rahman, pembaharuan dilakukan dengan cara:

1. Membangkitkan ideologi umat Islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

2. Berusaha mengikis dualisme system pendidikan tradisional (agama), dan pada sisi lain ada pendidikan modern (sekuler). Kedua sistem ini sama-sama tidak beres. Karena itu perlu ada upaya mengintegrasikan keduanya.

3. Menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebgai alat untuk mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. Menurut Rahman umat Islam adalah masyarakat tanpa bahasa karena lemah di bidang bahasa.

4. Pembaharuan di bidang metode pendidikan Islam yaitu dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis.[15]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

             Dari Pembahasan yang telah di uraikan tersebut, Fazlur Rahman, menawarkan perumusan pemikiran konsep pendidikan tinggi Islam yang hendak dikembangkan haruslah dibangun di atas sebuah paradigma yang kokoh spritual, intelektual, dan moral dengan al-Qur’an sebagai acuan pertama dan utama. Karena dengan paradigma model inilah akan membangun peradaban akan datang yang unggul secara intelektual, anggun secara moral yang berdasarkan al-Qur’an. Serta tawaran kurikulum yang sifatnya terbuka bagi kajian-kajian filsafat dan sain-sain sosial. Karena itu, Rahman sangat menekankan peranan filsafat sebagai kegiatan kritis analtis dalam melahirkan gagasan-gagasan yang bebas. Dalam hal ini filsafat berfungsi menyediakan alat-alat intelektual bagi teologi dalam menjalankan tugasnya “mem-bangun suatu pandangan dunia berdasarkan al-Qur’an”. Maka, Rahman memandang penting keterlibatan sains-sains sosial dalam khasanah pendidikan Islam. Fazlur Rahman juga menyimpulkan bahwaPendidikan tinggi Islam sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam,yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia, bahkan pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan.oleh sebab itu fazlur rahman memberikan beberapa alternative yang sangat bagus baik melalui karya-karyanya maupun teorinya yakni double movement. Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan, melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran Islam yang asli dan memadai, dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan Islam.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode, Epistemology dan System Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2006

Rahman, Fazlur , Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition, the University of Chichago Press, America, 1982

Sutrisno, Pendidikan Islam yang menghidupkan,Yogyakarta: Kota Kembang, 2006

M.Ihsan Ali Fauzi dan Taufik Adnan Amal,“Bibliografi Karya-karya Intelektual Fazlur Rahman”, dalam Jurnal Islamika, vol. 2, Oktober-Desember, 1993,Diposkan oleh W-CEEDA di 06:27

Taufik Adnan Amal, Neo Modernis Islam Fazlur Rahman, Bandung: Mizan, 1987, hlm.13

Abd. A’la, Dari Neomodernisme Islam Liberal, Jakarta: Paramadina, 2003

M. Hasbi Amirudin, Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman, Yogyakarta: UII Press, 2000

 

Rahman, Fazlur, 1968, Islam,New York : Anchor Book

________, 1983, Major Themes of The Qur’an, ter. Mahyudin, Anas, Tema-Tema Pokok al-Qur’an,Bandung : Pustaka

 

http://en.wikipedia.org/wiki/Fazlur-Rahman-Malik(diakses,tanggal 25/04/2011).

http://gmail-firmansyah.blogspot.com/2009/12/pemikiran-fazlur-rahman.html (diakses tanggal 22/05/2011)

 

 

http://.com/wp-content/uploads/2009/02/pemikiran_fazlur_rahman

( diakses tanggal 25/04/2011).

 

15


1 Taufik Adnan Amal, Neo Modernis Islam Fazlur Rahman, Bandung: Mizan, 1987, hlm.13

2 .Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, hlm.61

3 Abd. A’la, Dari Neomodernisme Islam Liberal, Jakarta: Paramadina, 2003, hlm. 33

4 M. Hasbi Amirudin, Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman, Yogyakarta: UII Press, 2000, hlm.10

2

5 Dr. Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, hlm. 63.

 

[6] Baca M. Yahya Birt, The Massage of Fazlur Rahman, dalam http://www.freerepublic.com/focus/fr/531762/posts (diakses tanggal 21/04/2011).

[7] http://en.wikipedia.org/wiki/Fazlur_Rahman_Malik (diakses tanggal 25/04/2011).

 

[8] M Ihsan Ali Fauzi dan Taufik Adnan Amal,”Bibliografi Karya-karya Intelektual Fazlur Rahman”, dalam Jurnal Islamika, vol. 2, Oktober Desember,1993, hlm. 81-84.

              Diposkan oleh W-CEEDA di 06:27

[10] Sutrisno, op.cit., hal. 106-107.

[11] .Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition, the   University of Chichago Press, America, 1982.hal 35-37.

[13] Sutrisno, Pendidikan Islam yang menghidupkan,(Yogyakarta: Kota Kembang, 2006), hal. 18.

[14] Ibid.18

[15] Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode, Epistemology dan System Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006), hal. 167.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: