BAB I PENDAHULUAN Tes prestasi belajar adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang setelah menjalani proses pembelajaran. Tes ini penting sekali dilakukan oleh guru, sekolah maupun lembaga kependidikan untuk mengetahui seberapa jauh siswa sudah mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Hasil tes dapat digunakan oleh guru, sekolah, atau institusi kependidikan lainnya untuk mengambil keputusan atau umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Jadi secara tidak langsung tes dapat digunakan untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan pendidikan dari waktu ke waktu. Banyak cara yang dilakukan untuk mengukur prestasi belajar siswa. Jika ditinjau dari penyiapan alat tes yang digunakan, maka pengukuran tes prestasi belajar dapat dibagi dua tipe yaitu: 1. Pengukuran yang menggunakan tes yang dibuat guru 2. Pengukuran yang menggunakan tes standar. Bentuk tes yang dibuat guru di kelas tentunya berbeda dengan bentuk tes standar. Bentuk tes yang dibuat guru bisa sangat bervariasi, misalnya tes tertulis, tes lisan, tes kinerja, sikap dan pengukurannya lebih menekankan untuk mendapatkan informasi proses pembelajaran siswa dari hari ke hari. Sedangkan bentuk tes standar, soal dan penskorannya harus lebih objektif dan mudah dilakukan sehingga pada umumnya hanya menggunakan satu jenis penilaian saja yaitu tes tertulis, khususnya bentuk soal pilihan ganda. Hal ini disebabkan tes standar digunakan untuk keperluan yang lebih luas dan umum, misalnya tes untuk bisa masuk ke jenjang pendidikan berikutnya, tes untuk melihat daya serap siswa, tes pemantauan mutu siswa, dsb. Selain itu hasil dari tes standar harus bisa dilihat keterbandingannya Tes standar adalah tes dimana soal-soalnya sudah mengalami proses analisis baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membuat tes standar adalah : 1. Menentukan tujuan tes; 2. Menentukan acuan ; yang akan dipakai oleh tes (criteria atau norma); 3. Membuat kisi-kisi; Memilih soal-soal dari kumpulan soal yang sudah ada sesuai dengan kisi-kisinya. Apabila soal yang diambil merupakan soal baru, maka soal-soal tersebut harus melalui tahap telaah secara kualitatif, revisi, ujicoba, analisis hasil ujicoba sehingga diperoleh soal yang baik dari segi kualitatif maupun kuantitatif. Selain itu pengadministrasian tes (pelaksanaan tes) juga dibuat standar. Untuk tes prestasi belajar terstandar soal-soal harus mengacu pada tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa, dalam hal ini kurikulum atau SKL (Standar Kompetensi Lulusan) yang sudah ditetapkan apabila tes tersebut akan digunakan untuk kelulusan, dan proses penskorannya juga harus dilakukan secara standar terutama apabila ada soal berbentuk uraian, sehingga hasil dari tes tersebut dapat dilihat keterbandingannya. Untuk membuat tes prestasi belajar terstandar yang dapat digunakan setiap saat, dibutuhkan butir-butir soal cukup banyak. Kebutuhan butir-butir soal yang bagus dan banyak ini bisa diatasi apabila ada bank soal yang menyimpan soal-soal tersebut. Bagan Penulisan Bank Soal Puspendik Berdasarkan bagan tersebut terlihat bahwa pengembangan bank soal dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: Tahap 1: Analisis secara kualitatif Soal-soal mentah yang dibuat oleh para penulis soal berdasarkan kisi-kisi yang disusun Puspendik akan masuk dalam kategori soal mentah. Soal mentah akan ditelaah secara kualitatif sehingga diperoleh soal baik tanpa revisi dan soal yang perlu direvisi serta soal yang ditolak. Soal yang perlu direvisi akan langsung direvisi sehingga diperoleh soal yang baik dan soal yang ditolak akan dikembalikan ke penulis soal. Tahap 2: Analisis secara kuantitatif Soal-soal yang baik secara kualitatif akan dirakit untuk proses ujicoba sehingga diperoleh data-data respon jawaban siswa. Respon jawaban siswa ini dianalisis menggunakan komputer sehingga diperoleh soal-soal yang baik dengan data-data parameter tingkat kesukaran dan daya beda untuk setiap butir soal. Pengembangan bank soal ini harus dilakukan secara terus menerus sehingga diperoleh soal-soal yang cukup banyak sesuai dengan perubahan yang terjadi baik pada kurikulum maupun pada SKLnya. BAB II 1. Menentukan Tujuan Tes/soal Penyusunan tes diawali dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai dengan menyelenggarakan tes tersebut. Dalam tes bahasa pada umumnya tes disusun sebagai tes hasil belajar. Tes hasil belajar yang mempunyau tujuan utama yaitu untuk menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan sampai tahap tertentu hingga tes tersebut diselenggarakan. Selain tujuan utama tersebut biasanya tes dilakukan juga dengan tujuan untuk mengetahui kesulitan belajar siswa, dan kelemahan butir-butir tes. 1. Penyusunan Kisi-kisi Kisi-kisi merupakan deskripsi mengenai ruang lingkup dan isi materi yang akan diujikan. Tujuan penyusunan kisi-kisi sebelum membuat soal adalah untuk menentukan ruang lingkup dan tekanan soal yang setepat-tepatnya sehingga dapat menjadi petunjuk dalam menulis soal. Dengan adanya penyusunan kisi-kisi maka akan sangat mudah dalam mendeteksi poin mana yang tepat digunakan sebagai tes dari berbagai kompetensi dasar. a. Jumlah Soal Kisi-kisi (test blue-print atau table of specification) merupakan deskripsi kompetensi dan materi yang akan diujikan. Tujuan penyusunan kisi-kisi adalah untuk menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam menulis soal. Kisi-kisi dapatberbentuk format atau matriks seperti contoh berikut ini. b. FORMAT KISI-KISI PENULISAN SOAL Jenis sekolah : …………. Jumlah soal : …………. Mata pelajaran : …………. Bentuk soal/tes: …………. Kurikulum : …………. Penyusun : 1. ………… Alokasi waktu : …………. 2. ………… No. Kompetensi Dasar/Indikator Bahan Kelas/Semester Materi Indikator Soal Bentuk Tes No. Soal (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Keterangan: Isi pada kolom 2, 3. 4, dan 5 harus sesuai dengan pernyataan yang ada di dalam silabus/kurikulum. Penulis kisi-kisi tidak diperkenankan mengarang sendiri, kecuali pada kolom 6. Kisi-kisi yang baik harus memenuhi persyaratan berikut ini: 1. Kisi-kisi harus dapat mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proporsional. 2. Komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami. 3. Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuat soalnya. c. Komponen Kisi-kisi • Jenis sekolah/kelas/semester • Mata pelajaran • Kurikulum yang diacu • Alokasi waktu • Jumlah soal • Bentuk soal • Bahan-bahan pengajaran yang akan diukur • Jenis kompetensi yang akan diukur (ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi) • Banyaknya soal yang akan disusun untuk masing-masing bahan pengajaran dan kompetensi/aspel intelektual yang akan diukur. • Bentuk soal • Tingkat kesukaran masing-masing soal. d. Langkah-langkah Pembuatan/Pengisian Kisi-kisi • Mendaftar pokok-pokok materi yang akan diteskan (berdasarkan silabi) • Memberikan imbangan bobot/presentase untuk masing-masing pokok materi (berdasarkan pada luas dan tingkat kedalaman materi) • Merinci banyaknya butir soal (proporsi jumlah item) untuk tiap-tiap materi. • Menentukan proporsi/prosentase untuk setiap pokok aspek intelektual yang diukur bagi setiap pokok-pokok materi (perhatikan homogenitas dan heterogenitas bahan). • Mengisi sel-sel dalam kisi-kisi • Pemberian nomor item. Ada dua model tes tertulis, yaitu: A. Tes uraian (essay type test) Digunakan untuk mengukur kemampuan murid dalam masalah-masalah yang menuntut kemampuan berfikir tinggi, seperti kecakapan: a. Memecahkan soal b. Menganalisis c. Memperbandingkan d. Mengevaluasi e. Menyatakan sebab-akibat f. Menarik kesimpulan, dst. • Kelebihan model ini diantaranya adalah: a. Tidak mudah ditebak b. Sulit untuk saling mencontoh c. Menuntut siswa untuk menyusun buah pikiran secara rinci • Kelemahan model ini diantaranya adalah: a. Sangat subjektif b. Memeriksa memerlukan waktu yang lama dan tidak bisa diwakilkan. c. Tidak mencakup bahan yang luas d. Jawaban bisa terlalu panjang e. Kemungkinan tulisan sukar dibaca yang akan mempengaruhi terhadap pemberian angka. B. Tes obyektif (objective type test), Digunakan untuk mengukur kecakapan murid dalam masalah-masalah yang menuntut kemampuan berfikir tidak terlalu tinggi, seperti kecakapan: a. Mengingat kembali fakta b. Mengenali kembali fakta c. Memahami prinsip-prinsip d. Menggunakan prinsip-prinsip e. Mengasosiasikan antara dua hal dan seterusnya. • Kelebihan model ini adalah: a. Pemeriksaan dapat lebih cepat b. Penilaian lebih objektif c. Dapat dijawab secara cepat dan mencakup bahasan yang luas. • Kelemahan model ini adalah penyusunan soal memerlukan waktu yang lama dan sukar digunakan untuk mengukur kecakapan murid berfikir tinggi. C. Rambu-Rambu Pembuatan Soal Dalam membuat soal tes uraian maupun tes obyektif ada rambu-rambu yang harus diperhatikan oleh si pembuat soal, yaitu: 1. Rambu-rambu untuk soal tes uraian adalah: a. Soal hendaknya dirumuskan secara jelas dan tegas batas-batasnya. b. Dalam setiap soal hendaknya sudah terkandung maksud tentang jawaban yang dikehendaki oleh penyusun soal. c. Kunci jawaban hendaknya dibuat serempak bersamaan dengan penyusunan soal. d. Seluruh bahan ujian hendaknya diolah dan dipadukan 2. Rambu-rambu untuk soal tes obyektif. a. Untuk soal benar-salah – Petunjuk pengerjaan dijelaskan terlebih dahulu – Setiap soal tidak boleh mengandung kata-kata yang meragukan – Hindari kalimat menyangkal karena akan membingungkan siswa – Pergunakan kalimat tunggal yang pendek saja b. Untuk soal pilihan ganda/jamak – Pernyataan masalah harus jelas-jelas mempersoalkan suatu masalah – Pada setiap soal hanya mempunyai satu jawaban yang benar. – Perumusan masalah hendaknya kalimat tidak lengkap yang dapat dilengkapi oleh pilihan jawaban – Pilihan jawaban hendaknya meninggi c. Untuk soal menjodohkan Rambu-rambu yang perlu diperhatikan adalah jumlah jodoh/pasangan hendaknya lebih besar daripada terjodoh, dan jumlah soal tidak terlalu banyak. d. Untuk soal isian – Bagian kalimat yang diganti dengan titik-titik hendaknya merupakan bagian yang terpenting – Pergunakan kalimat yang mudah dipahami – Panjang titik-titik hendaknya sebanding dengan panjang isian – Bagian kalimat yang diganti dengan titik-titik hendaknya di tempatkan di bagian tengah atau akhir kalimat. e. Untuk jawaban singkat • Jawaban tidak memerlukan uraian panjang-lebar • Setiap soal hendaknya di jawab secara mutlak • Susunan kalimat hendaknya sederhana dan jelas Pemilihan materi dalam penyusunan kisi-kisi hendaknya memperhatikan empat aspek sebagai berikut: • Urgensi, secara teoretis materi yang akan diujikan mutlak harus dikuasai siswa; • Relevansi, materi yang dipilih sangat diperlukan untuk mempelajari atau memahami bidang lain. • Kontinuitas, materi yang dipilih merupakan materi lanjutan atau pendalaman materi dari yang sebelumnya pernah dipelajari dalam jenjang yang sama maupun antar jenjang;dan • Kontekstual, materi memiliki daya terap dan nilai guna yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini adalah diagram yang menggambarkan proses penjabaran kompetensi dasar menjadi indikator. Bagan Penjabaran Kompetensi Dasar (bagan) ______ : garis langkah-langkah penulisan butir soal …………. : garis pengecekan ketepatan rumusan butir soal Keterangan diagram Kompetensi Dasar : Kemampuan minimal yang harus dikuasai siswa setelah mempelajari materi pelajaran tertentu. Kompetensi dasar ini diambil dari Standar Isi. Materi : Bahan ajar yang harus dikuasai siswa berdasarkan kompetensi dasar yang akan diukur. Penentuan materi (bahan ajar) yang akan diambil disesuaikan dengan indikator yang akan disusun. Indikator : Berisi ciri-ciri perilaku yang dapat diukur sebagai petunjuk untuk membuat soal. Soal : Disusun berdasarkan indikator yang dibuat. Diagram di atas menunjukkan bahwa seorang penulis soal dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi indikator perlu melalui langkah-langkah berikut: • memilih kompetensi dasar yang akan diukur; • menentukan materi (bahan ajar); • membuat indikator yang mengacu pada kompetensi dasar • dengan memperhatikan konteks/materi yang dipilih; dan • menulis soal berdasarkan indikator yang dibuat. Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang kesesuaian antara indikator yang disusun dan kompetensi dasar, disarankan untuk melihat kompetensi dasar dan materi yang ada dalam kisikisi. Indikator yang baik harus memiliki kriteria: • memuat ciri-ciri kompetensi dasar yang akan diukur. • memuat kata kerja operasional yang dapat diukur. • berkaitan dengan materi (bahan ajar) yang dipilih. • dapat dibuatkan soalnya. PRINSIP PENULISAN SOAL TRANSPARAN : Jelas yang diujikan, perintah, dan kriteria Penskorannya. AUTENTIK : Berhubungan dengan pengalaman belajar peserta didik dan sesuai dengan dunia riil/nyata. Konstruksi Soal 1. Stem/Pokok Soal • Dirumuskan secara jelas dan tegas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dan hanya mengandung satu persoalan untuk setiap nomor. • Harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja • Tidak memberi petunjuk kearah jawaban yang benar • jangan mengandung pernyataan yang bersifat negative ganda. 2. Pilihan/Option Jawaban • Panjang option jawaban harus relatif sama. • Tidak mengandung pernyataan “Semua jawaban di atas salah” atau “Semua pilihan jawaban di atas benar” • Option jawaban berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut dan pilihan jawaban berbentuk angka yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. Pemilihan Materi Soal • Sesuai dengan indikator, artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai tuntutan indikator. • Option harus homogen dan logis, artinya semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang terkandung dalam pokok soal, penulisannya harus setara dan semua pilihan jawaban harus berfungsi. • Mempunyai satu jawaban yang benar. Jika terdapat beberapa pilihan jawaban yang benar, maka kunci jawabannya adalah pilihan jawaban yang paling benar. Penggunaan Bahasa • Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. • Harus komunikatif, sehingga mudah dimengerti siswa. • Jangan menggunakan bahasa daerah tertentu jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional. • Option jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata tersebut pada pokok soal. Uji Coba Soal & Analisis Soal • Taraf Kesukaran • Pembeda • Pola jawaban Soal Analisis Butir Soal Secara Manual Analisis soal dilakukan untuk mengetahui berfungsi tidaknya sebuah soal. Analisis pada umunya dilakukan melalui 2 cara, yaitu analisis kualitatif (qualitative control) dan analisis kuantitatif (quantitative control). Analisis kualitatif sering pula dinamakan sebagai validitas logis (logical validity) yang dilakukan sebelum soal digunakan untuk melihat berfungsi tidaknya sebuah soal. Analisis soal secara kuantitatif sering pula dinamakan sebagai validitas sempiris (empirical validity) yang dilakukan untuk melihat lebih berfungsi tidaknya sebuah soal, setelah soal itu diujicobakan kepada sampel yang representatif. Tujuan dilakukannya analisis butir soal adalah untuk meningkatkan kualitas soal, yaitu pakah suatu soal: dapat diterima karena telah didukung data statistik yang memadai, diperbaiki karena terbukti terdapat beberapa kelemahan, atau bahkan tidak digunakan sama sekali arena terbukti secara empiris tidak berfungsi sama sekali. 1. Analisis Kualitatif Menelaah atau menganalisis soal ditinjau dari segi teknis (berkaitan dengan prinsip-prinsip pengukuran dan format penulisan soal), isi (berkaitan dengan kelayakan pengetahuan yang ditanyakan), dan editorial (berkaitan dengan keseluruhan format dan keajegan editorial dari soal yang satu ke soal yang lainnya). Analisis kualitatif lainnya dapat juga dikategorikan dari segi materi (berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam soal serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan soal), konstruksi (berkaitan dengan teknik penulisan soal), dan bahasa (berkaitan dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut EYD). 2. Analisis Kuantitatif Analisis dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana soal dapat membedakan antara peserta tes yang kemampuannya tinggi dalam hal yang didefinisikan oleh kriteria dengan peserta tes yang kemampuannya rendah. Informasi lainnya adalaah bagaimana soal dapat membdeakan antara individu maupun antarkelompok. Analisis soal secara kuantitatif menekankan pada analisis karakteristik soal secara kuantitatif menekankan pada analisis karakteristik internal tes melalui data yang diperoleh secara empiris. Karakteristik internal secara kuantitatif dimaksudkan meliputi parameter soal tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas. Khusus soal-soal pilihan ganda, dua tambahan parameter, yaitu dilihat dari peluang menebak atau menjawab soal benar dan berfungsi tidaknya pilihan jawaban, yaitu penyebaran semua alternative jawaban dari subyek-subyek yang dites. a. Tingkat Kesukaran Bermutu atau tidaknya butir-butir soal tes hasil belajar pertama-tama dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh masingmasing butir soal tersebut. Butir-buti soal tes hasil belajar dapat dinyatakan baik, apabila butir-butir soal tersenut tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah dengan kata lain derajat kesukaran item itu adalah sedang atau cukup. Rumusnya adalah sebagai berikut: ___ __ Keterangan rumus: p = proporsi menjawab benar atau tingkat kesukaran _x = banyaknya peserta tes yang menjawab benar Sm= Skor maksimum N = jumlah peserta tes Hasil dari penghitungan yang telah dilakukan, maka dihubungkan dengan kategori tingkat kesukaran Robert L. Thorndike dan Elizabeth Hagen sebagai berikut: Tabel Kategori Tingkat Kesukaran Nilai p kategori 0.70 Terlalu Mudah Pengambilan keputusan setelah diketahui taraf kesukaran butir soal adalah: 1) butir yang masuk ke dalam kategori sedang, seyogyanya butir soal tersebut segera dicatat dalam bank soal. Selanjutnya dapat dikeluarkan kembali dalam tes-tes hasil belajar pada waktu yang akan datang. 70 2) butir yang termasuk dalam kategori sulit, ada 3 kemungkinan tindak lanjut, yaitu: dibuang atau didrop dan tidak akan dikeluarkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang, diteliti ulang, dilacak, dan ditelusuri sehingga dapat diketahui faktor yang menyebabkan butir soal itu dirasakan sulit bagi peserta didik, dan digunakan untuk tes seleksi masuk yang bersifat ketat. 3) butir yang termasuk dalam kategori mudah, ada 3 kemungkinan tindak lanjutnya, yaitu: dibuang atau didrop dan tidak akan dikeluarkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang, diteliti ulang, dilacak, dan ditelusuri sehingga dapat diketahui factor yang menyebabkan butir soal itu dirasakan mudah bagi peserta didik, dan digunakan untuk tes seleksi masuk yang bersifat longgar. Agar anda lebih memahami konsep taraf kesukaran butir soal ini, maka silahkan pelajarilah contoh di bawah ini. Contoh: Kategorikanlah tingkat kesukaran butir soal berikut ini:   Tabel Responsi Butir Soal No. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kunci C A A A D B D D C C 1 C A A A A B D D C A 2 C A A A A B D D C A 3 C A A A A B B D C A 4 C A A A A B B D C A 5 C A A A B B B D C A 6 C A A A A B D D C A 7 B D A A B B D D C A 8 C A A A A B D D C A 9 C A A A A B D D C A 10 C A A A A B D D C A 11 C D A A A B D D C A 12 C A A A A B D D C A 13 C A A A A B D D C A 14 C D A A A B D D B A 15 C D A A A B D D C A 16 B A A A A B D D C A No. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kunci C A A A D B D D C C 17 B A A A A B D D C A 18 B A A A A B D B C A 19 C D A A A B D D C A 20 C A A A A B D D C A Jawab: Tabel 5.4. Responsi Butir Soal Stelah Skoring No. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor Total Kunci C A A A D B D D C C 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 2 1 1 1 0 1 1 1 8 3 1 1 1 0 1 0 1 7 4 1 1 1 0 1 0 1 7 5 1 1 1 0 1 0 1 7 6 1 1 1 0 1 1 1 8 7 0 1 1 0 1 1 1 6 8 1 1 1 0 1 1 1 8 9 1 1 1 0 1 1 1 8 10 1 1 1 0 1 1 1 8 11 0 1 1 0 1 1 1 7 12 1 1 1 0 1 1 1 8 13 1 1 1 0 1 1 1 8 14 0 1 1 0 1 1 0 6 15 0 1 1 0 1 1 1 7 16 1 1 1 0 1 1 1 7 17 1 1 1 0 1 1 1 7 18 1 1 1 0 1 1 1 7 19 0 1 1 0 1 1 1 7 20 1 1 1 0 1 1 1 8 Σx 16 1 20 0.8 M 15 20 20 0 20 17 20 1 20 1 M 19 0 1 20 0 Sk 147 Skor Max 1 1 1 1 1 1 1 N 20 20 20 20 20 20 20 P 0.75 1 1 0 1 0.85 0.95 Kategori M M M Sk M Sk M 72 Dari hasil analisa terhadap taraf kesukaran butir, maka soal nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, dan 8 termasuk ke dalam kategori soal mudah dan sisanya soal nomor 5, 8, dan 10 termasuk ke dalam kategori soal sukar. b. Daya Pembeda Tujuannya adalah untuk menentukan dapat tidaknya suatu soal membedakan kelompok dalam spek yang diukur sesuai dengan perbedaan yang ada dalam kelompok itu. Indeks daya pembeda ini didapat dari selisih proporsi yang menjawab dari masing-masing kelompok. Indeks ini menunjukkan kesesuaian antara fungsi soal dengan fungsi tes secara kesuluruhan. Dengan demikian, validitas soal ini sama dengan daya pembeda soal, yaitu daya dalam membedakan antara peserta tes yang berkemampuan tinggi dengan peserta tes yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda berkisar antara -1 sampai dengan +1. Tanda negatif menandakan bahwa peserta tes yang kemampuannya rendah dapat menjawab benar, sedangkan peserta tes yang kemampuannya tinggi menjawab salah. Dengan demikian, soal yang indeks daya pembedanya negatif menunjukkan terbaliknya kualitas peserta tes. Kriteria yang digunakan untuk menganalisa soal adalah sebagai berikut: Tabel 5.5. Kategori Indeks Daya Pembeda Nilai D Klasifikasi Interpretasi > 0.20 Poor Daya pembeda lemah sekali (jelek), dianggap tidak memiliki daya pembeda yang baik 0.20 – 0.40 Satisfactory Memiliki daya pembeda yang cukup (sedang) 0.40 – 0.70 Good Memiliki daya pembeda yang baik 0.70 – 1.00 Excellent Memiliki daya pembeda yang baik sekali Bertanda negative – Daya pembedanya negative (jelek sekali) 73 Akhirnya sebagai tindak lanjut atas hasil penganalisaan mengenai daya pembeda butir hasil belajar tersebut adalah: 1) Butir soal yang telah memiliki daya pembeda item yang baik (satisfactory, good, dan excellent) hendaknya dimasukkan dalam bank soal dan bisa digunakan kembali pada tes yang akan datang. 2) Butir soal yang daya pembedanya masih rendah (poor) ada 2, yaitu: diperbaiki atau didrop. 3) Khusus butir soal yang angka indeksnya bertanda negative, sebaiknya pada tes hasil belajar yang akan datang tidak dikeluarkan kembali. Untuk memahami konsep daya pembeda ini, maka anda bisa mempelajarinya dari contoh berikut ini. Masih menggunakan data pada tabel 5.3, carilah daya pembedanya. Tabel 5.5 Daya Pembeda Kelompok Atas Kelompok Atas No. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor Total Kunci C A A A D B D D C C 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8 2 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8 3 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8 4 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8 5 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8 6 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8 7 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8 8 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8 9 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8 10 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 7 Σx 10 10 10 10 0 10 9 10 10 0 Skor Max 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 N 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 P 1 1 1 1 0 1 0.9 1 1 0 74 Tabel 5.6 Daya Pembeda Kelompok Bawah Kelompok Bawah No. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor Total Kunci C A A A D B D D C C 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 7 2 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 7 3 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 7 4 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 7 5 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 6 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 7 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 8 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 7 9 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 6 10 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 6 Σx 6 5 10 10 0 10 8 10 9 0 Skor Max 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 N 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 P 0.6 0.5 1 1 0 1 0.8 1 0.9 0 Tabel 5.7 Hasil Daya Pembeda Kategori Satisfactory Good Poor Poor Poor Poor Poor Poor Poor Poor Sebagai catatan: untuk mendapatkan kelompok kelas atas dan bawah, sebelumnya anda harus mengurutkan hasil tes siswa dari yang tinggi sampai ke yang rendah. Setelah itu jika jumlah peserta didik ≤ 100, maka jumlah peserta di bagi atas 2 atau 50 Soal PA PB D 1 1 0.6 0.4 2 1 0.5 0.5 3 1 1 0 4 1 1 0 5 0 0 0 6 1 1 0 7 0.9 0.8 0.1 8 1 1 0 9 1 0.9 0.1 10 0 0 0 75 %, sedangkan jika jumlah peserta ≥ 100, maka jumlah peserta dibagi 27% atas dan 27% bawah (kelompok yang diantaranya tidak digunakan) c. Fungsi Distraktor Dari sekian banyak opsi jawaban hanya terdapat satu yang benar yang dinamakan kunci jawaban, sedangkan kemungkinan jawaban yang tidak benar dinamakan distraktor atau pengecoh. Sudah kita sadari sangat sulit membuat soal, khususnya soal pilihan ganda dengan pengecoh yang baik. Rendahnya daya pembeda seringkali muncul karena pengecoh yang kurang berfungsi. Adanya satu atau dua pengecoh yang tidak berfungsi akan mengakibatkan rendahnya tingkat kesukaran. Suatu pengecoh dapat dikatakan berfungsi baik jika paling sedikit dipilih oleh 5% (> 0.05) peserta tes. Apabila pengecoh dipilih secara merata, maka termasuk pengecoh yang sangat baik. Apabila pengecoh lebih banyak dipilih oleh peserta tes dari kelompok atas dibandingkan dengan kelompok bawah, maka termasuk pengecoh yang menyesatkan. Salah satu tujuan analisis soal adalah untuk mengetahui tentang distribusi jawaban subyek dalam alternative jawaban yang tersedia. melalui distribusi jawaban penyebaran jawaban ini dapat diketahui: banyaknya peserta tes yang jawabannya benar, pengecoh yang bagi peserta tes terlalu menyolok kesalahannya sehingga tidak memilih, pengecoh yang menyesatkan, dan pengecoh yang mempunyai daya tarik bagi peserta tes yang kurang pandai. Contoh: masih dengan menggunakan data dari tabel 5.3, namun fungsi distraktor yang dianalisa hanya pada soal nomor 1. 76 Tabel 5.8 Hasil Fungsi Distraktor No Peserta Respon Alternatif Jawaban Soal Nomor 1 A B C D 1 C 0 0 1 0 2 C 0 0 1 0 3 C 0 0 1 0 4 C 0 0 1 0 5 C 0 0 1 0 6 C 0 0 1 0 7 C 0 0 1 0 8 C 0 0 1 0 9 C 0 0 1 0 10 C 0 0 1 0 11 C 0 0 1 0 12 C 0 0 1 0 13 C 0 0 1 0 14 C 0 0 1 0 15 B 0 1 0 0 16 B 0 1 0 0 17 B 0 1 0 0 18 C 0 0 1 0 19 B 0 1 0 0 20 C 0 0 1 0 Σ alternatif jawaban 0 4 16 0 Σp alternatif jawaban 0 0.2 0.8 0 Dengan melihat hasil perhitungan di atas, maka tidak ada distraktor yang berfungsi hanya opsi B, karena telah mencapai hasil > 0.05. Sedangkan yang 0.8 tidak dihitung karena itu merupakan kunci jawabannya. C. Analisis Butir Soal dengan Menggunakan Software Microcat Iteman Penghitungan dengan menggunakan elektronik sangat membantu pada saat jumlah butir dan peserta tesnya banyak. Untuk itulah maka di sini anda akan 77 mempelajari bagaimana menganalisa butir soal dengan menggunakan software Microcat Iteman. Iteman merupakan program computer yang dipergunakn untuk menganalisis soal secara klasik. Program ini termasuk satu paket program dalam Micro CATTM yang dikembangkan oleh Assessment Systems Corporation mulai tahun 1982 dan mengalami revisi pada tahun 1984, 1986, 1988, dan 1993; mulai dari versi 2.00 sampai dengan versi 3.50. Program ini dapat dipergunakan untuk: 1) menganalisis data file (format ASCII) jawaban butir soal yang dihasilkan melalui manual entri data atau dari mesin scanner, 2) menskor dan menganalisis data soal pilihan ganda dan skala likert untuk 30.000 siswa dan 250 butir soal, 3) menganalisis sebuah tes yang terdiri dari 10 skala (subtes) dan memberikan informasi tentang validitas tiap butir ?(daya pembeda, tingkat kesukaran, proporsi jawaban pada setiap opsi), reliabilitas (KR-20/alpha), standard error of measurement, mean, varians, standar deviasi, skew, kurtosis untuk jumlah skor pada jawaban benar, skor minimum dan maksimum. skor median, dan frekuensi distribusi skor. Berikut cara-cara penggunaannya: 1. Aktifkan jendela notepad. Start => all programs => accessories => notepad 2. Isilah 4 baris control atau control line dengan syarat sebagai berikut: baris 1: Jumlah soal (diisi dengan 3 digit), spasi, kode omit (diisikan dengan angka 9 atau 0), spasi, antisipasi bila ada soal yang belum dikerjakan (tulis n), spasi, jumlah identitas siswa (maksimal 80 karakter) 78 baris 2: berisi kunci jawaban baris 3: berisi jumlah pilihan jawaban baris 4: kode jawaban, Y untuk soal yang ingin dianalisis dan N untuk soal yang tidak ingin dianalisis baris 5 dan seterusnya: berisi jawaban responden 3. Bila semua data sudah tertulis kemudian simpan. File => Save as => tulis nama file dengan ekstensi *.dat (nama file.dat). Perlu diperhatikan software iteman harus satu folder dengan data notepad yang akan dianalisis. 4. Aktifkan software microcat iteman dengan mendouble klik iconnya, sehingga tampil seperti ini 5. Isilah data yang ada dengan mengenternya. catatan: ekstensi untuk hasil adalah namafile.out (contoh: lussy.out) untuk skor, namafile.sco (contoh:lussy.sco) 80 8. Setelah tinggal buka folder tempat anda menyimpan hasil analisa tadi. Hasil analisa data 9. Selanjutnya hasil yang dikeluarkan, dianalisa kembali dengan menggunakan kriteria yang telah dijabarkan sebelumnya saat menghitung manual. D. Analisis Butir Soal dengan Menggunakan Software Anatest Anatest kegunaannya sama dengan iteman, namun secara pengoperasian lebih mudah. Selain itu, hasil sudah langsung dianalisa oleh program. jadi, anda tidak perlu lagi bersusah payah menganalisanya kembali dengan kriteria yang ada. Berikut langkah-langkah kerjanya: 1. Aktifkan program anatest dengan mengklik dua kali pada icon, hingga keluar tampilan seperti ini 81 2. Klik buat file baru, lalu isikan informasi tentang tes yang akan dianalisa 3. Bila sudah terisi, klik Ok, maka selanjutnya akan keluar tampilan seperti ini 4. Bila data sudah terisi semua, maka selanjutnya untuk melihat hasilnya. Klik kembali ke menu utama. Setelahnya pada kolom penyekoran pilihlah apa yang ingin anda analisa. Namun untuk lebih mudahnya, pilih saja olah semua otomatis. Bila langkah-langkah yang anda jalankan benar, maka akan muncul tampilan seperti ini 82 5. Jika ingin langsung dicetak pilih cetak ke printer dan kalau mau disimpan terlebih dahulu di computer pilih cetak ke file Latihan Analisalah tiap butir tes hasil belajar mata kuliah evaluasi pendidikan dasar di bawah ini dengan menggunakan cara: 1. manual 2. microcat iteman 3. anatest No. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kunci D D A C B B D D C A 1 C A A A A B D D C A 2 C A A A A B D D C A 3 C A A A A B B D C A 4 C A A A A B B D C A 5 C A A A B B B D C A 6 C A A A A B D D C A 7 B D A A B B D D C A 8 C A A A A B D D C A 9 C A A A A B D D C A 10 C A A A A B D D C A 11 C D A A A B D D C A 12 C A A A A B D D C A 13 C A A A A B D D C A 14 C D A A A B D D B A 15 C D A A A B D D C A 16 B A A A A B D D C A 17 B A A A A B D D C A 18 B A A A A B D B C A 19 C D A A A B D D C A 20 C A A A A B D D C A 83 Rangkuman Untuk membantu pemahaman anda tentang Kegiatan Belajar 1, berikut ini kami sajikan rangkuman materinya. 1. Validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauhmana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Reliabilitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan ketetapan atau keajegan suatu skor. 2. Bentuk validitas ada 4, yaitu: validitas isi, konstruk, predikitif, dan konkuren. Sedangkan bentuk reliabiltas, yaitu: test retest methods, parallel, split-half methods, dan internal consistency. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif yang terdapat pada bagian akhir bab ini. Hitunglah jawaban yang benar, kemudian gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap materi pada bab ini. Jumlah jawaban yang benar Tingkat Penguasaan =——————— ———–x 100% Arti tingkat penguasaan: 90 – 100 % = baik sekali 80 – 89 % = baik 70 – 79 % = cukup < 70 % = kurang Apabila mencapai tingkat penguasaan 80 % atau lebih, anda dapat meneruskan ke bab selanjutnya. Jika masih di bawah 80 %, maka anda harus mengulangi materi pada bab ini, terutama bagian yang belum anda kuasai.

LTD (FAUZIAH)

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: