Total Physical Response by T.M.Juanda

Total Physical Response

ABSTRAK

Setiap orang memiliki bahasanya sendiri dalam kegunaannya sebagai alat komunikasi, karena bahasa merupakan sebuah kebudayaan yang tergantung dari dimana bahasa itu berada. Kemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris dewasa ini menjadi sebuah tuntutan kepada setiap individu sebagai salah satu kemampuan yang harus dikuasai dalam upaya mengimbangi perkembangan jaman. Didasari bahwa setiap orang mampu dan berhak untuk mendapatkan pembelajaran terutama bahasa, tidak terkecuali kepada anak dengan kebutuhan khusus lebih jauh lagi anak tunanetra. Dalam proses pembelajarannya bagi anak tunanetra tentunya akan berbeda dengan anak lain pada umumnya karena mesti ada perlakuan khusus terhadap mereka. Meskipun dewasa ini tengah berkembang pembelajaran inklusif, tetapi tetap saja masih terdapat kekurangan dalam pengaplikasiannya.
UUD negara Indonesia menjamin warga negaranya untuk mendapatkan hak dalam pendidikan tidak ada diskriminasi kepada setiap orang tetapi ada yang harus diberikan layanan khusus pada kasus-kasus tertentu. Dalam pelaksanaannya pengajar harus mampu mencapai tujuan yang sudah tercantum dalam kurikulum sehingga seorang pengajar haruslah memiliki kemampuan dalam mengembangkan isi dari kurikulum tersebut. Pada dasarnya pembelajaran setiap bahasa asing terutama bahasa Inggris bertujuan untuk membuat seseorang mampu berkomunikasi dengan bahasa tersebut dengan baik dan benar. Dalam kasus anak tunanetra pembelajaran bahasa Inggris tidak bisa serta merta diajarkan dengan model biasa tetapi harus diberikan dengan model yang cocok agar proses pembelajarannya berjalan dengan efektif.
Dengan menggunakan metode deskriptif bibliografis penulis mencoba memadukan antara kajian-kajian dalam beberapa buku dan artikel yang di tulis oleh para ahli, dengan ditambah pemikiran dan logika yang bisa penulis tambahkan.
Sehingga diperoleh beberapa pokok sub bahasan yang berkaitan dengan, anak berkebutuhan khusus, gambaran model Total Physical Learning dalam pembelajaran, serta penerapan model Total Physical Learning dalam pembelajaran Speaking untuk anak tunanetra dalam upaya pembentukan karakter, peningkatan kepercayaan diri dan keberhasilan dalam belajar.

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirahim.
Segala puji hanyalah bagi Allah Swt, karena Allah-lah yang telah memberikan izin dan juga ridho serta inayah-Nya kepada kita semua selaku hambanya. Ucapan syukur tiada terkira saya ucapkan kepada Allah, karena Dia telah mengijinkan diri ini dapat menyelesaikan sebuah karya Ilmiah yang berjudul “Penerapan Model Total Physical Response (TPR) dalam Pembelajaran Speaking untuk Siswa Tunanetra (Dalam Upaya Pembentukan Karakter, Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Keberhasilan Pembelajaran Siswa)”, tidak lupa mudah-mudahan Allah Swt senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Rasulullah Muhammad Saw, dan kepada kita semua selaku umatnya.
Model pembelajaran dari tahun ke tahun senantiasa mengalami perubahan, karena dituntut oleh perkembangan jaman dan kebutuhan peserta didik. Baru-baru ini model TPR kembali mencuat di dalam dunia pendidikan, Meskipun model pembelajaran ini telah popular sejak tahun 70-an, khususnya model ini cocok dalam pembelajaran bahasa baru diilhami dari teori pemerolehan bahasa pada anak. Dalam penerapannya model ini dipergunakan khususnya bagi pelajar pemula dan juga yang mengalami kelambatan dalam belajar (slow learner).
Penerapan model TPR juga berguna dalam pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus dalam hal ini siswa tunanetra, sangatlah cocok mengingat siswa tunanetra mengalami beberapa kesulitan dalam pembelajaran karena kekurangan penglihatannya, selain itu juga dengan menggunakan model ini diharapkan setiap siswa mengalami proses pembentukan karakter (character building) dan peningkatan kepercayaan diri (self confidence).
Saya persembahkan karya ilmiah ini bagi keluarga, para dosen, teman-teman, dan setiap orang yang mendukung saya.
Bandung, Maret 2010
Penulis,

DAFTAR ISI

ABSTRAK 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3

BAB I PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang Masalah 4
B. Batasan Masalah 5
C. Rumusan Masalah 6
D. Tujuan Penulisan 6
E. Manfaat Penulisan 6
BAB II LANDASAN TEORITIS 8
A. Landasan Pancasila dan UUD 1945 8
B. Kurikulum 9
C. Pembelajaran Bahasa Inggris 10
D. Anak Tunanetra 11
E. Sosial dan Budaya 12
BAB III METODE PENULISAN 13
A. Metode Penulisan 13
B. Teknik Analisis 13
BAB IV PEMBAHASAN 14
A. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 14
B. Model Pembelajaran Total Physical Response (TPR) 15
C. Aplikasi penerapan Total Physical Response (TPR) dalam pembelajaran speaking 17
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI 19
A. Simpulan 19
B. Rekomendasi 20
DAFTAR PUSTAKA 21
RIWAYAT HIDUP 22

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Howard Gardner menyatakan bahwa salah satu kecerdasan yang dimiliki manusia adalah kecerdasan berbahasa (Language Intelligent), setiap peradaban manusia memiliki bahasanya masing-masing tergantung dari kondisi sekitar dan juga kesepakatan antar masyarakat di daerah tersebut. Kemampuan berbahasa diperoleh oleh manusia secara empiric, tergantung bahasa apa yang digunakan di lingkungan tersebut.
Bahasa merupakan kebutuhan bagi setiap individu, karena bahasa adalah salah satu alat yang memang kebanyakan dilakukan dalam berkomunikasi. Bahasa Inggris sebagai bahasa global merupakan alat komunikasi antar bangsa, sehingga setiap bangsa yang ingin memenuhi tuntutan era globalisasi mensyaratkan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa yang harus dikuasai selain bahasa asli. Di Indonesia tersendiri bahasa Inggris hanyalah sebagai bahasa asing, bukan merupakan bahasa yang sehari-hari digunakan, hanya sebatas untuk memenuhi kondisi tertentu, sehingga diperlukan pembelajaran bahasa Inggris yang efektif dan efisien dalam upaya peningkatan kualitas bangsa melalui penguasaan bahasa.
Setiap individu memiliki bahasanya masing-masing, lebih tepatnya gaya bahasanya masing-masing, karena pada dasarnya bahasa merupakan sebuah budaya yang ada di suatu daerah tertentu. Metode/ model pembelajaran bahasa sebagai bahasa Asing di Indonesia tersendiri sudah mengalami banyak kemajuan dan perkembangan termasuk metode/ model yang dikhususkan bagi anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam hal ini tunanetra, berbeda dengan siswa normal pada umumnya, menurut Hidayat (Dosen PLB & Psikologi FIP UPI) “ABK adalah mereka yang mempunyai kebutuhan, baik permanen maupun sementara, yang disebabkan oleh kondisi sosial-emosi, dan/atau, kondisi ekonomi dan/atau, kondisi politik dan/atau, kelainan bawaan maupun yang di dapat kemudian.”
Menurut data stasistik ICF tahun 2008 penyandang cacat di setiap provinsi besar berdasarkan tingkat pendidikan sebagai berikut:
Table 1.1
PROVINSI TINGKAT PENDIDIKAN TOTAL
Tidak SD SMP SMA D1-D3/ S1-S3
Sekolah
Jambi 10.924 2.828 738 428 46 14.964
Bengkulu 7.808 2.986 863 611 71 12.339
Jawa Barat 90.722 49.779 7.315 4.039 428 152.283
NTB 6.603 1.258 399 471 39 8.770
Bali 12.167 2.583 684 588 70 16.092
NTT 27.878 8.557 1.220 888 107 38.650
Kalbar 10.969 4.465 803 402 29 16.668
Sulsel 25.228 6.027 1.645 1.433 177 34.510
Gorontalo 3.338 1.197 193 181 18 4.927
JUMLAH 195.637 79.680 13.860 9.041 985 299.203

Tabel 1.2

Di Jawa Barat sendiri terdapat banyak orang penyandang cacat itu pun menurut data 2008, dan kemungkinan sekarang semakin bertambah populasinya. Mereka memerlukan perlakuan khusus baik dalam keseharian maupun dalam pembelajaran, dewasa ini tengah berkembang metode inklusif yang mana model pembelajaran tersebut mencampurkan beberapa ABK dengan sejumlah siswa yang “normal” dalam satu kelas. Memang model ini cukup berhasil dalam membangun karekter ABK tetapi tetap terdapat beberapa permasalahan mendasar karena pada dasarnya ABK merupakan slow learners (Pelajar yang lambat) dan mereka tetap membutuhkan perlakuan khusus di dalam kelas dari gurunya atau pun teman sekelasnya.
Lingkungan memang memiliki andil yang sangat banyak dalam pembentukan karakter setiap individu, sebuah kenyataan bahwa ABK adalah istimewa, sehingga membutuhkan perlakuan khusus dalam setiap aspek. Dari paparan latar belakang tersebut penulis sangat tertarik untuk mencoba membahas bagaimana untuk membentuk karakter dan kepercayaan diri disamping keberhasilan pembelajaran ABK menggunakan model Total Physical Response (TPR) dalam upaya peningkatan kemampuan berbahasa Inggris khususnya speaking bagi anak berkebutuhan khusus lebih spesifik lagi siswa Tunanetra.

B. Batasan Masalah
Untuk lebih mempermudah penulis dalam penyusunan karya ilmiah ini maka masalah yang akan di kaji berkenaan dengan penerapan model Total Physical Response (TPR) dalam Pembelajaran Speaking untuk siswa Tunanetra dalam upaya character building (pembentukan karakter), self confidence (kepercayaan diri) dan keberhasilan belajar.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang sebelumnya maka di buat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana peranan pengajar dalam menangani anak berkebutuhan khusus?
2. Bagaimana cara penerapan Total Physical Response dalam pembelajaran speaking untuk siswa tunanetra?
3. Bagaimana dampak model Total Physical Response dalam upaya character building (pembentukan karakter), self confidence (kepercayaan diri) dan keberhasilan belajar?

D. Tujuan Penulisan
Didasari dari rumusan masalah di atas, maka penulis dalam hal ini bertujuan:
1. Mengetahui bagaimana peranan pengajar dalam menangani anak berkebutuhan khusus.
2. Mengetahui cara penerapan Total Physical Respon dalam pembelajaran speaking untuk siswa tunanetra.
3. Mengetahui dampak dari model Total Physical Response dalam upaya character building (pembentukan karakter), self confidence (kepercayaan diri) dan keberhasilan belajar.

E. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan ini dibagi menjadi tiga. Manfaat-manfaat tersebut adalah:
1. Manfaat bagi penulis:
a. Menambah ilmu pengetahuan dengan banyakanya temuan-temuan teori dalam pembelajaran, sehingga menambah khasanah keilmuan dalam pemahaman pembelajaran.
b. Menambah wawasan dalam dunia pendidikan sebagai bekal kelak bila menjadi guru mata pelajaran Bahasa Inggris.
2. Manfaat bagi guru:
a. Dapat dijadikan bahan masukan ataupun bahan pertimbangan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
b. Memiliki cara baru dalam penerapan model pembelajaran sehingga peserta didik tidak merasa jenuh dan materi juga tersampaikan dengan baik.
3. Manfaat bagi siswa:
Memberikan pengalaman baru kepada peserta didik dan juga dapat membantu siswa dalam pembentukan karakter (character building), meningkatkan kepercayaan diri (self confidence) dan keberhasilan belajar.

BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Landasan Pancasila dan UUD 1945
Pancasila dan UUD 1945 merupakan acuan pokok dalam setiap aspek kehidupan di Indonesia ini, sehingga warga Negara Indonesia harus berlandaskan kedua hal tersebut dalam kesehariannya disamping dari aspek agama dan kebudayaan. Dalam UUD 1945 di atur secara umum mengenai hak-hak yang diperoleh oleh warga Negara, pada pasal 28C ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”
Sedangkan dalam Bab XII tentang Pendidikan dan Kebudayaan, pasal 31 ayat 3 dan 5, menyatakan:
Ayat 3: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang di atur dengan undang-undang. dan
Ayat 5: Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan Persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Selain dari setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam pendidikan tak terkecuali orang yang memiliki kekurangan baik secara fisik dan mental juga memiliki hak tersebut dan pemerintah harus memiliki andil yang cukup besar dalam penanggulangan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dalam upaya meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup warga negara.

Penanggulangan terhadap anak berkebutuhan khusus haruslah tepat dan efektif, sebagai salah satu negara yang penduduknya terbanyak di dunia, tentunya tidak sedikit orang yang mengalami kelainan, sehingga pemerintah pun harus mampu memperhatikan mereka karena merekapun berhak mendapatkan pelayanan negara.

B. Kurikulum
Kurikulum adalah salah satu alat terpenting dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif, efisien dan fleksibel. Sehingga kurikulum pada saat ini yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) memberikan otonomi tersendiri kepada setiap satuan pendidikan dalam menentukan konsep pembelajaran yang diperlukan bagi satuan pendidikan tersebut. Di bawah ini beberapa pengertian kurikulum:
1. Dalam UU No. 20 tahun 2003 dikemukakan bahwa, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Saylor dan Alexander (1956:3) merumuskan kurikulum sebagai “the total effort of the school to going about desired outcomes in school and out of school situations” (Kurikulum adalah segala upaya sekolah untuk memperoleh hasil yang diinginkan dalam mengelola situasai di dalam sekolah ataupun di luar sekolah).
3. Konsep kurikulum menurut Tunner dan Tanner (1980) adalah 1) Kurikulum sebagai modus mengajar; 2) Kurikulum sebagai pengetahuan yang diorganisasikan; 3) kurikulum sebagai arena pengalaman; 4) Kurikulum sebagai pengalaman belajar terbimbing dan kurikulum sebagai hasil belajar merupakan tanggungjawab sekolah dan merupakan serangkaian hasil belajar yang diharapkan; 6) Kurikulum sebagai jalan meraih ijizah merupakan syarat mutlak dalam pendidikan formal.

Dalam pelaksanaannya seorang guru di tuntut untuk mampu mengaplikasikan kurikulum yang sudah ada, dan dalam pengaplikasiannya guru harus mampu memodifikasi bahan ajar dan cara pembelajaran kepada siswa dalam upaya ketercapaian pembelajaran.

C. Pembelajaran Bahasa Inggris
Pada Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab 1 pasal 1 dikemukakan, “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Syamsudin (2003: 156) mengemukakan “Proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai suatu rangkaian interaksi antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuan”. Pembelajaran merupakan proses komunikasi multi arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.
Menurut Corey (dalam Sagala 2003: 61) pembelajaran adalah “suatu proses dimana lingkungan sekolah secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu”.
Menurut pengertiaan di atas menjelakan bahwa pembelajaran pada dasarnya memerlukan proses interaksi antar pendidik dan peserta didik. Meskipun pembelajaran tidak hanya diperoleh dari institusi formal saja, tetapi tetap pembelajaran memerlukan metode dan juga media dalam proses penyampaiannya. Sedangkan bahasa (Inggris) menurut Dr. Suhendra Yusuf, M.A. (dalam Foundation of Linguistics 2008) “language is a system of arbitrary vocal symbols used for human communication.” (Bahasa merupakan sebuah sistem yang timbul dari hasil alat-alat pembentuk suara yang berubah-ubah (pita suara) yang kemudian disimbolkan, serta digunakan untuk alat berkomunikasi manusia).
Dalam oxford dictionary, “Language is a system of communication in speech and writing that is used by people of a particular country.” (Bahasa merupakan sebuah sistem untuk berkomunikasi dalam berbicara dan menulis, yang mana digunakan oleh manusia di beberapa Negara).
Apabila ditarik Kesimpulan dari pengertian pembelajaran dan bahasa, maka pembelajaran bahasa merupakan pembelajaran yang bertujuan membuat peserta didik mampu dan cakap untuk menggunakan bahasa tersebut dalam berkomunikasi, itu merupakan gambaran secara umum tentang pembelajaran bahasa. Tetapi bila dikhususkan kepada ranah bahasa Inggris sehingga peserta didik diarahkan untuk menguasai bahasa tersebut baik dari segi listening (mendengarkan), speaking (berbicara), reading (membaca) dan writing (menulis).

D. Anak Tunanetra
Kata tunanetra terdiri dari dua suku kata tuna dan netra, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990:971):
Tuna : rusak, luka, kurang, tidak memiliki
Netra : mata
Sehingga tunanatra adalah sebuah keadaan dimana seseorang tidak bisa melihat karena mengalami kerusakan mata.
Menurut PP No. 72 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa menyatakan bahwa “Tuna netra adalah kerusakan atau cacat mata yang mengakibatkan seseorang tidak dapat melihat/buta. Termasuk tuna netra adalah seseorang yang kurang daya penglihatannya.”
Ada dua jenis orang tunanatra, yang pertama tidak dapat melihat (blind) dan yang kedua pandangan yang kabur (low vision). Penyebab seseorang menderita tunanetra dianataranya karena faktor sebelum dan sesudah lahir, faktor sebelum lahir diantarany karena si ibu kurang memberikan asupan gizi ketika hamil atau mengkonsumsi obat-obatan yang dapat merusak janin, dan lain sebagainya. Sedangkan faktor setelah lahir disebabkan anak kurang asupan gizi dan vitamin terutam vitamin A, anak menderita penyakit yang dapat mengakibatkan kepada kebutaan.

E. Sosial dan Budaya
(Froestad 1996; Ingstad & Whyte 1995) mengutarakan bahwa:
Faktor-faktor sosial budaya dalam suatu masyarakat mempengaruhi bagaimana layanan bagi para penyandang kecacatan (disability) berkembang. Contoh faktor-faktor tersebut adalah peran anak dalam keluarga, bagaimana orang memahami dan memandang kecacatan, bagaimana masyarakat menghargai pendidikan, peranan pendidikan dalam menentukan masa depan seorang warga, hubungan antara tanggung jawab swasta dan pemerintah dalam arena pendidikan dan sosial, prioritas politik, serta sumber daya ekonomi dan material

Bagaimanakah masyarakat memandang terhadap para penyandang kecacatan, baik di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam beberapa kasus para penyandang kecacatan sering dipandang sebelah mata oleh orang lain, dan hal tersebut membuat kepercayaan diri penyandang cacat menjadi berkurang. Masyarakat dan pemerintah, haruslah memandang para penyandang cacat sebagai salah satu tanggunag jawab bersama, baik dalam mendidik, berkehidupan sosial, interaksi dengan sesama dan lain sebagainya. Mereka pun memiliki hak dan kita harus membantu mereka sebagai wujud dari kepedulian sosial kita kepada sesama.

BAB III
METODE PENULISAN

A. Metode Penulisan
Metode yang dipergunakan penulis dalam menyusun karya tulis ini adalah metode deskriptif bibliografis, yang mana menurut Mohamad Ali (dalam Mulyana 1998: 27) bahwa:
Metode penulisann deskriptif dugunakan untuk berupaya memecahkan atau menambah permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan, klasifikasi dan analisis pengolahan data, membuat kesimpulan dan laporan, adapun tujuan untuk membuat penggambaran tentang sesuatu keadaan secara obyektif dalam suatu deskriftif situasi.

Penulis menggunakan metode ini mengingat metode ini yang paling cocok dalam penulisan karya ilmiah bagi penulis, karena lebih bersifat mengumpulkan data berupa kajian-kajian dalam buku dan beberapa sumber lain.

B. Teknik Analisis
Metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif sehingga teknik analisis dari penulisan karya ilmiah ini yaitu dengan cara tinjauan pustaka kemudian dikembangkan baik secara deduktif maupun induktif. Sehingga diperoleh data-data yang memadai baik dari buku sumber, artikel, internet, dan lain sebagainya.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Kita ketahui bersama bahwa ABK ada di sekeliling kita, mereka bukanlah seseorang yang harus kita anggap aneh, tetapi sebaliknya kita harus menjadi teman dan juga melindungi mereka. Mereka yang harus kita perhatikan dan didik agar mereka menjadi individu yang lebih baik dan dapat menjadi kebanggaan. Menurut Hidayat (Dosen PLB & Psikologi FIP UPI):
ABK adalah mereka yang mempunyai kebutuhan, baik permanen maupun sementara, yang disebabkan oleh kondisi sosial-emosi, dan/atau, kondisi ekonomi dan/atau, kondisi politik dan/atau, kelainan bawaan maupun yang di dapat kemudian. yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.
Menurut pengertian tersebut anak berkebutuhan khusus terbagi kepada dua kelompok, ada yang bersifat temporer/ sementara ada juga yang bersifat permanen atau selamanya. Dalam kasus anak yang memiliki kecacatan sementara dapat dilakukan penyembuhan, tetapi pada anak yang memiliki kecacatan permanent kita harus tetap mendukungnya dengan tetap memberi semangat dan dekat dengan mereka.
Anak berkebutuhan khusus memerlukan perlakuan sedikit berbeda dari kita yang “normal” dalam segala aspek kehidupan, meskipun tidak semua orang yang cacat ingin dilakukan special, karena mereka ingin diberlakukan sama layaknya orang biasa. Kalangan tunanetra merupakan kalangan orang yang bersifat permanent kecacatannya. Pada dasarnya mereka hanya tidak bisa melihat tetapi kinerja otak mereka/ daya pikir mereka kebanyakan normal, tetapi tidak jarang pula mereka memiliki daya pikir yang rendah. Dalam proses pembelajaran siswa tunanetra memiliki peluang besar walaupun disatukan dengan siswa normal, tetapi tetap siswa tunanatera membutuhkan perhatian yang sedikit lebih dalam proses pembelajaran.

B. Model Pembelajaran Total Physical Response (TPR)
Dr. James J. Asher adalah orang pertama yang memperkenalkan model TPR dalam bukunya yang berjudul “Learning another Language through Actions”. Dia dengan beberapa ahli linguistik meneliti tentang pembelajaran bahasa yang berhasil. Total Physical Response (respon fisik secara total) secara lebih luas dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang menuntut siswanya untuk berperan aktif/ merespon dengan keseluruhan fisiknya dalam proses pembelajaran.
Pengertian lain dari TPR adalah sebuah model pembelajaran yang mengoptimalkan kinerja anggota tubuh kita. model ini didasari dari teori pemerolehan bahasa pada anak dan model TPR sangatlah cocok dalam pembelajaran bahasa lain selain bahasa asli. Mengapa TPR sangat cocok dalam pembelajaran bahasa Inggris, menurut pendapat ahli bahwa:
1. Model ini mudah dimengerti karena siswa di buat untuk mengalaminya,
2. Model ini memberikan pemahaman kepada siswa tentang fungsi dari kata tertentu,
3. Model ini sangat menyenangkan dan siswa tidak sadar sedang belajar
4. Model ini cocok untuk siswa pemula dan siswa yang lambat belajarnya.
Dari beberapa kriteria tersebut dinyatakan bahwa model TPR mudah dimengerti, memberikan pemahaman dari fungsi kata, menyenangkan dan cocok bagi siswa pemula atau pun siswa yang lambat belajarnya (Anak Berkebutuhan Khusus). Model ini sempat populer sejak tahun 70-an tetapi model tersebut masih dapat digunakan hingga sekarang ini.
Beberapa pokok-pokok penting dalam penerapan model pembelajaran TPR:
1. Siswa terdiri dari 6-10 orang,
2. membutuhkan ruangan yang barang didalamnya fleksibel untuk dipindahkan,
3. dikhususkan dalam satu topik dalam satu pertemuan
4. Menggunakan bahasa yang sederhana.
Sedangkan materi-materi yang dapat diterap kan model TPR diantaranya adalah:
1. Alfabet,
2. Penghitungan sederhana
3. mengenali objek
4. mengenali bagian-bagian tubuh
5. menjelaskan objek
6. ekspresi perasaan
7. Intruksi sederhana
8. menunjukan tempat
9. kebiasaan sehari-hari
10. Transportasi.
Secara umum pelaksanaan pembelajaran menggunakan model TPR dilakukan dengan memberikan siswa instruksi-instruksi sederhana mengenai sesuatu hal tetapi juga melibatkan aktivitas tubuh sebagi penunjangnya. Siswa diberikan instruksi seperti “stand up” dengan memperagakan gerakan berdiri dan juga “sit down” dengan memperagakan gerakan duduk pengajar memberikan intruksi itu dengan berulang-ulang sampai anak tersebut mengerti dan dapat mengulangi.
Prinsip penerapan TPR adalah “watch-listen-do not speaks” (lihat-dengar-jangan berbicara). Usahakan guru tidak terlalu banyak mengutarakan apa yang hendak dipelajarai tetapi kondisikan siswa untuk memahaminya dengan sendirinya. Contoh yang diberikan Margaret B. Silver/Barbara Adelman/Elisabeth Pric (dalam Total Physical Response: A Curriculum for Adults English Language and Literacy Center, St. Louis, MO 63105-3323) diantaranya:
1. Berikan contoh sebanyak tiga kali berturut-turut dengan intonasi dan suara yang jelas.
2. Pengajar berkata (contoh):
“Touch your head.” “Touch your nose.” “Touch your chin.”
“Touch your head.” “Touch your nose.” “Touch your chin.”
“Touch your head.” “Touch your nose.” “Touch your chin.”
3. Kemudian biarkan para siswa mengulangi apa yang anda katakan sebelumnya, dengan beberapa pengulangan, dengan catatan hanya sedikit pembicaraan di dalam kelas.
Dengan pola seperti demikian siswa diarahkan untuk terbiasa menggunakan kata-kata tersebut, hal ini didasari dari teori kebiasaan (habitual action).

C. Aplikasi penerapan Total Physical Response (TPR) dalam pembelajaran speaking
Dalam pengaplikasian TPR bagi siswa tunanetra pada umumnya sama dengan dalam model-model biasa, tetapi yang menjadi perbedaan adalah pengajar haruslah berperan aktif dalam membimbing peserta didiknya, karena keterbatasan penglihatan sehingga ia tidak mampu merespon secara visual apa yang diperagakan oleh pengajar, melainkan ia harus diarahkan secara langsung oleh pengajar kepada objek yang kita contohkan.
Sebelum proses pembelajaran itu dimulai siswa di ajak berkumpul dan bersama melakukan sebuah permainan yang bertujuan untuk membangun kepercayaan diri dan pembentukan karakter, tetapi permainan ini menggunakan bahasa Inggris. Proses kegiatannya sebagai berikut:
1. siswa diajak untuk membuat lingkaran kecil,
2. kemudian siswa diberitahu bagaimana aturan permainannya, aturannya yaitu seorang siswa mengatakan sesuatu dan di respon oleh siswa lain apa yang siswa pertama katakana,
a. memperkenalkan diri (salah seorang siswa disuruh untuk memperkebalkan diri), contoh “My name is Saepul” kemudian siswa yang lain berkata “So your name are Saepul”.
b. Berlanjut memberitahukan apa kelebihan kita (salah seorang siswa memprkenalkan diri dan memberitahu kelebihannya), contoh: “My name is Saepul, and I am good in making poetry” siswa yang lain merespon “So your name are Saepul, and you are good in making poetry”.
c. Berlanjut memberitahukan apa yang orang lain suka dari kita contoh: “My name is Saepul, I am good in making poetry, and my friends like my poem” siswa lain merespon “So your name are Saepul, you are good in making poetry, and your friends like your poem”.
d. dan terakhir memberitahu kesenangan kita, contoh: “My name is Saepul, I am good in making poetry, my friends like my poem, and I like to show up my poem” siswa lain merespon “So your name are Saepul, you are good in making poetry, your friends like your poem and you like to show up your poem”.
Kegiatan itu dilakukan dari tahap ke tahap dan setiap siswa harus mendapat bagiannya masing-masing berputar setiap satu tahap. Permainan ini dapat diaplikasikan setiap awal pembelajaran denga topik yang sama atau ditambah beberapa modifikasi
Sedangkan proses pembelajarannya tersendiri setiap pengajar efektifnya bisa membimbing sekitar 1-3 peserta didik, karena apabila lebih dari itu pengajar akan kewalahan dan perlu di bantu oleh orang lain. Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut:
1. Pengajar berada dekat dengan siswa dalam sebuah lingkaran yang kecil,
2. pengajar menggerakan tangan siswa untuk menyentuh hidung mereka dan berkata “Touch your nouse”, kemudian menyentuh mata dan berkata “Touch your eyes”, kemudian menyentuh bibir dan berkata “Touch your lips” kegiatan tersebut dilakukan sebanyak tiga kali berturut turut,
3. Kemudian pengajar mengulangi kata-kata tersebut tanpa membantu siswa tunanatera menggerakan tangannya, hanya memberikan perintah saja bebeapa kali,
4. Kemudian siswa dipersilahkan untuk mencobanya sendiri dan diikuti oleh pengajar dan siswa yang lain.

BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan
1. Pengajar memiliki peranan penting untuk membuat peserta didik khususnya anak berkebutuhan khusus dalam membentuk karakternya, meningkatkan kepercayaan dirinya dan keberhasilan dalam belajarnya, sehingga guru harus memberikan perhatian secara khusus kepada siswa tersebut.
2. Penerapan model Total Physical Learning bagi siswa tunanetra adalah dengan membuat siswa tunanetra bergerak dengan tubuhnya dalam melakukan Aktivitas tertentu yang relevan dengan materi ajar, contohnya mengenali benda, pengajar berperan menjadi instruktur dan dengan bantuan instruktur siswa tunanetra digerakan tubuhnya untuk menyentuh sesuatu dan pengajar menyebutkannya apa yang siswa sentuh yang tentunya dalam bahasa Inggris secara berulang untuk beberapa objek, dan pengajar membiarkan siswa mencobanya sendiri, (kenalkan, dengarkan, dan ulangi).
3. Dampak dari penggunaan model Total Physical Learning dalam upaya character building (pembentukan karakter), self confidence (kepercayaan diri) dan keberhasilan belajar, dapat dirasakan terutama dengan diadakan permainan untuk menerima diri sendiri dan mengutarakan kelebihan setiap pribadi, dengan pengulangan yang terus menerus maka anak akan lebih baik, percaya diri dan keberhasilan belajar pun tercapai.

B. Rekomendasi
1. Penerapan model TPR untuk mengajarkan bahasa baru kepada siswa terutama siswa tunanetra perlu dikembangkan karena selain model ini mudah diterapkan juga model ini cocok bagi siswa tunanetra dan mereka merasa nyaman karena tidak seperti belajar dan dapat dilakukan dimana saja.
2. Setiap pendidik harus mampu mengembangkan dan memodifikasi model-model bahan ajar dalam upaya membangun suasana belajar yang efektif, sehingga siswa terutama siswa tunanetra mampu menyerap materi ajar dengan optimal.
3. Pemerintah harus memperhatikan siswa-siswa dengan kebutuhan khusus, karena mereka memerlukan penanganan yang berbeda denga siswa pada umumnya, sehingga mereka tidak lagi menjadi bahan sindirin orang, tetapi menjadi kebanggaan setiap orang.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, (2003), Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan dan Penjelasanya.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta
Hidayat. (2009). Makalah: Model Dan Strategi Pembelajaran ABK Dalam Setting Pendidikan Inklusif. Bandung.
Kaelan, M. S. (2008). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
Nugraha, D. (2010). Makalah: The Total Physical Response (TPR). Bandung.
Rahman, S. A. (2008). Karya Ilmiah: Penerapan Makna Religi Dalam Pembelajaran, Solusi Dunia Pendidikan. Bandung.
Silver, M. (2003). Makalah: Total Physical Response (TPR): A Curriculum for Adults. St. Louis. English Language and Literacy Center.
Suhendra, Y. (2008). Foundation of Linguistics. http://cyberlinguistics.blogspot.com
Tirtarahardja, U. (1995). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Wehmeier, S. (2000). Oxford Advance Learner’s Dictionary. New York: Oxford University Press.
Woremnæs, S. (2008). Makalah: Mendidik Tenaga Pendidik bagi Siswa yang Berkebutuhan Khusus.

 

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: